BERBAGI ILMU

Al Quthuz, Singa Gurun di Ain Jalut



Bayangkanlah dahsyatnya kehancuran yang diakibatkan oleh gelombang Tsunami yang melanda Aceh dan Jepang beberapa tahun silam. Mayat-mayat bergelimpangan. Bangunan, pepohonan, kebun, binatang ternak, sarana umum, semuanya hancur berantakan. Kota yang tadinya ramai mendadak sepi, kelam dan berubah menjadi seperti kota hantu. Seperti itulah yg terjadi dengan negeri-negeri Islam yang terbentang dari Samarkhan hingga Baghdad ketika dilewati oleh Pasukan Mongol.

Bangsa Mongol atau Tartar telah diisyaratkan kemunculannya oleh Nabi saw. Baginda saw menyebut mereka sebagai Bani Qantura dengan ciri-ciri fisik bermuka lebar dan bermata kecil. Hanya dengan kekuatan 200.000 tentara dan berlangsung hanya dalam waktu 40 hari Kekhalifahan Abbasiyah lenyap dari muka bumi.

Kejatuhan Baghdad merupakan peristiwa sangat tragis dalam sejarah kemanusiaan. Selama 500 tahun bertahta dengan segala kebesarannya Kekhalifahan Abbasiyah Baghdad luluh lantak dihancurkan. Sebanyak 1,8 juta kaum muslimin yang berada di kota Baghdad disembelih dan kepalanya disusun menjadi gunung tengkorak sebagai peringatan bagi negara-negara yang melawan kekuatan Mongol. Khalifah Sultan Al-Mu’tasim dibantai beserta 50.000 tentara pengawalnya. Sejak pembantaian itu selama 3,5 tahun umat Islam hidup tanpa Khalifah.
Ada ahli sejarah menukilkan situasi saat itu bagaimana Hulagu Khan ini melakukan pembunuhan terhadap khalifah dengan cara memasukkannya ke dalam gulungan permadani sementara pasukan Mongol menginjak-injak dengan kuda-kuda mereka. Tidak cukup dengan itu, tentara Tartar yang biadab ini memusnahkan ribuan perpustakaan yang memuat jutaan kitab- kitab, manuskrif-manuskrif sebagai khazanah peradaban di Baghdad dengan mencampakkannya ke dalam laut sehingga air laut bertukar kehitaman akibat banyaknya kitab- kitab tersebut.

Ketika itu, seluruh negeri Islam yaitu Baghdad, Syria dan Asia Tengah sudah jatuh ke tangan tentara Mongol. Hanya tinggal tiga negeri Islam yang belum dimasuki yaitu Makkah, Madinah dan Mesir. Maka Hulagu Khan terus merangsek berupaya menaklukkan negeri yang lain.

Siapa yang menduga bangsa primitif yang jauh dari peradaban pernah mengusai 1/2 dari daratan bumi ini. Bangsa Mongol yang nomaden memutarbalikan semua fakta sejarah. Bagi dunia Islam, penaklukkan oleh Mongol ini mungkin dilihat sebagai suatu pendahuluan, sekaligus miniatur keluarnya Ya’juj Ma’juj pada akhir zaman.

Kengerian yang ditimbulkannya seolah belum hilang di tempat-tempat yang pernah diserbu oleh pasukan Jenghis Khan ini. Saat berkunjung ke Herat, Afghanistan, Mike Edwards mendengar komentar masyarakat tentang peristiwa yang terjadi tujuh setengah abad yang lalu itu, seolah baru saja terjadi sehari sebelumnya. “Hanya sembilan saja! Seluruh yang masih bertahan hidup di sini – sembilan orang!” seru seorang warga tua saat menggambarkan serangan Mongol ke kota itu (National Geographic, Desember 1996). Dan Herat bukan satu-satunya kota yang menerima nasib buruk dari pasukan Mongol.

Para ulama Islam ketika itu, hampir-hampir tidak mampu mencatat kronologis peristiwa serangan yang tidak berperikemanusiaan ini. Tidak pernah terjadi malapetaka sedasyat itu dalam sejarah bangsa manapun. Seperti yang terucap dari panglima perang Mongol saat pertama kali menjebol kota Baghdad, “Aku adalah malapetaka yang diturunkan Tuhan ke muka bumi untuk menghukum kalian…”

Quthuz Sang Penakluk Gelombang
Saifuddin Quthuz adalah satu di antara tokoh besar dalam sejarah muslimin. Nama aslinya adalah Mahmud bin Mamdud.. Ia berasal dari keluarga muslim berdarah biru. Quthuz adalah putra saudari Jalaluddin Al-Khawarizmi, Raja Khawarizmi yang masyhur pernah melawan pasukan Tartar dan mengalahkan mereka, namun kemudian ia kalah dan lari ke India. Ketika ia sedang lari ke India, Tartar berhasil menangkap keluarganya. Tartar membunuh sebagian mereka dan memperbudak sebagian yang lain.

Mahmud bin Mamdud adalah salah satu dari mereka yang dijadikan budak. Tartar menjuluki si Mahmud dengan nama Mongol, yaitu Quthuz, yang berarti “Singa Yang Menyalak”. Tampaknya sedari kecil Quthuz memiliki karakter orang yang kuat dan gagah. Kemudian Tartar jual si Mahmud kecil di pasar budak Damaskus. Salah seorang bani Ayyub membelinya. Dan ia dibawa ke Mesir. Di sini, ia pindah dari satu tuan ke tuan yang lain, sampai akhirnya ia dibeli oleh Raja Al-Mu’izz Izzuddin Aibak dan kelak menjadi panglima besarnya.

Dalam kisah Quthuz ini, kita bisa mencatat dengan jelas bagaimana skenario ajaib Allah SWT. Tartar telah memperdaya muslimin dan memperbudak salah satu anak-anak muslimin dan mereka jual langsung di pasar budak Damaskus. Untuk kemudian ia diperjualbelikan dari satu tangan ke tangan lainnya, yang akhirnya sampai ke suatu negeri yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Boleh jadi karena usianya yang masih kecil ia tidak melihat negeri jauh ini. Namun, pada akhirnya ia menjadi raja di negeri asing itu dan sepak terjang Tartar yang membawanya dari ujung dunia Islam ke Mesir pun harus berakhir di tangannya!

Subhanallah yang telah mengatur dengan Maha Lembut dan memperdaya dengan Maha Bijak. Tiada sesuatupun di bumi dan langit yang samar bagi-Nya.

ومكروا مكرًا ومكرنا مكرًا وهم لا يشعرون
“Dan mereka pun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari.” (An-Naml [27]: 50)

Quthuz –sebagaimana mamalik (budak yang dididik militer) lainnya–tumbuh dengan pendidikan agama yang benar. Semangat Islam yang kuat bergelora di dalam hatinya. Sejak kecil, ia dilatih dengan seni menunggang kuda, metode pertempuran, seluk-beluk manajemen dan leadership. Ia tumbuh menjadi seorang pemuda gagah berani, mencintai dan menjunjung tinggi agamanya. Ia juga seorang yang kuat, penyabar, dan perkasa. Selain itu semua, ia juga dilahirkan dari keluarga raja.

Masa kanak-kanak Quthuz layaknya para pangeran yang lain. Hal ini membuat dirinya begitu percaya diri. Ia tidak asing dengan masalah kepemimpinan, manajemen negara dan kekuasaan. Di atas itu semua, keluarganya hancur oleh Tartar. Hal ini–tentu saja–membuat dirinya paham betul dengan bencana Tartar. Sebab orang yang menyaksikan tidaklah seperti yang mendengar.

Semua faktor ini berpadu menjadikan Quthuz seorang yang memiliki karakter sangat unik. Ia merasa ringan dengan penderitaan, tidak takut dengan para musuh bagaimanapun banyak jumlahnya atau unggul kekuatan mereka.

Pendidikan Islam dan militer, juga pendidikan untuk berpegang teguh kepada Allah, agama dan percaya diri, semua itu mempunyai pengaruh besar dalam kehidupan Quthuz –rahimahullah-.

Nama Quthuz mulai muncul ke permukaan setelah terbunuhnya Raja Al-Muizz Izzuddin Aibak dan istrinya Syajarah Ad-Dur dihukum mati. Kemudian kekuasaan beralih kepada “Sultan Bocah” Al-Manshur Nuruddin Ali bin Izzuddin Aibak. Quthuz-lah yang memegang perwalian atas sultan kecil tersebut.

Quthuz meskipun ia secara real menyetir roda pemerintahan di Mesir, namun pada kenyataannya yang duduk di kursi kekuasaan adalah seorang sultan bocah. Tentu hal ini melemahkan wibawa pemerintah di Mesir dan merongrong kepercayaan rakyat kepada rajanya serta menguatkan niat musuh-musuhnya karena mereka melihat raja adalah seorang bocah.

Dengan mempertimbangkan ancaman Tartar yang menakutkan, problema internal yang mencekik, kekacauan dan pemberontakan dari mamalik bahriyyah dan ambisi para emir Bani Ayyub di Syam, maka Quthuz melihat tiada makna keberadaan “Sultan Bocah” Nuruddin Ali di kursi negara terpenting di kawasan, yaitu Mesir, di mana tiada lagi harapan untuk membendung Tartar kecuali di pundaknya.

Dari situ, Quthuz mengambil keputusan berani, yaitu menurunkan Nuruddin Ali dan ia mengambil alih kekuasaan di Mesir. Keputusan itu bukanlah hal yang aneh. Sebab sebenarnya Quthuz adalah penguasa real di Mesir. Semua orang –termasuk “sultan bocah” itu sendiri–mengetahui hal itu. Seolah-olah ada boneka lucu di mana Quthuz-lah yang menggerakan boneka tersebut. Boneka itu adalah sultan yang bocah. Apa yang dilakukan Quthuz tiada lain hanya mengangkat boneka itu, untuk memperlihatkan seorang singa gagah yang di tangannyalah peta geografi dunia akan berubah, begitu pula lembaran-lembaran sejarah lainnya.

Penggantian ini terjadi pada tanggal 24 Dzul Qaidah 657 H, yaitu beberapa hari sebelum kedatangan Hulagu di Aleppo.

Sejak Quthuz – naik ke kursi kekuasaan, ia terus mempersiapkan diri untuk menyongsong Tartar yang belum lama menghancurkan ibukota Khilafah Abbasiyah di Baghdad. Lalu bagaimana Sultan Al-Muzhaffar (gelar Quthuz setelah menjadi raja) menangani situasi yang sangat krusial itu? Apa saja langkah-langkah dan persiapan yang dilakukannya untuk menghadapi serangan Tartar yang dahsyat? Dalam kurun waktu sekitar setahun (658 H), Quthuz melakukan banyak pekerjaan besar. Secara ringkas terangkum dalam kronologi sebagai berikut:

  • Quthuz memulai reformasi dalam negeri di Mesir.
  • Pengampunan terhadap mamalik bahriyyah dan penyatuan dengan bekas rival mereka mamalik mu’izziyyah.
  • Azh-Zhahir Baibars yang sempat menjadi oposisi diundang pulang ke Mesir dari Damaskus.
  • Upaya Quthuz menyatukan Mesir dan Syam lewat surat-surat untuk para emir Bani Ayyub di Syam.
  • Aleppo jatuh pada bulan Shafar, juga Damaskus pada bulan Rabiul Awwal, di bawah kekuasaan Tartar.
  • Datangnya surat ancaman Tartar untuk menyerang Mesir.
  • Quthuz memutuskan untuk memerangi Tartar.

  • Keputusan Quthuz untuk memerangi Tartar akan dilangsungkan di Palestina dan bukan di Mesir.
  • Dimulainya persiapan tentara Mesir secara ekonomi dan juga militer.

  • Dimulainya persiapan mental rakyat Mesir dengan ulama sebagai pelopornya untuk menerima ide jihad melawan Tartar.

  • Sebagian tentara Syam datang bergabung dengan Quthuz di Mesir.
  • Tentara muslim berkumpul di daerah Shalihiyah.

  • Tentara muslim bergerak menuju Palestina pada bulan Sya’ban.
  • Kemenangan muslimin di bawah Baibars atas tentara Tartar yang menjaga Gazza.
  • Perundingan dengan kaum Salib di Akka.

  • Quthuz memilih Ain Jalut untuk menjadi ajang pertempuran dengan Tartar.
  • Kemenangan muslimin di Ain Jalut yang terjadi pada 25 Ramadhan.

  • Damaskus dibebaskan dari tangan Tartar oleh pasukan yang dipimpin Quthuz pada 30 Ramadhan.
  • Aleppo dibebaskan dari tangan Tartar di bawah Baibars pada awal bulan Syawwal.
  • Quthuz kembali ke Mesir pada 26 Syawal.

  • Quthuz meninggal dunia, syahid—insyaallah.
Saifuddin Al-Muzhaffar Quthuz Rahimahullah meninggal dunia hanya lima puluh hari setelah kemenangan Ain Jalut. Kekuasaannya hanya berusia 11 bulan dan 17 hari. Tidak genap satu tahun!

Berbagai peristiwa bersejarah yang agung, persiapan yang bagus, pendidikan yang tinggi, kemenangan gemilang, hasil yang luar biasa dan dampak yang besar. Ya, semua ini dicapai kurang dari satu tahun!
Meski ia memerintah dalam masa yang sangat pendek, namun ia termasuk tokoh terbesar dunia. Karena, nilai seorang tokoh dan keagungannya tidak diukur dengan umurnya yang panjang, harta yang banyak, atau kerajaannya yang megah, namun ia diukur dengan karya-karya bersejarahnya yang mampu merubah peta sejarah dan geografi dunia. Pada saat yang sama karya-karya itu juga bernilai besar menurut mizan (timbangan) Allah.

Ia seperti yang disifati oleh Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar Al-A’lam An-Nubala’, “Ia adalah seorang prajurit pemberani, politikus, beragama, dicintai rakyat, mengalahkan Tartar, membersihkan Syam dari Tartar pada perang Ain Jalut, ia juga orang yang baik jihadnya, insyaallah. Ia adalah seorang pemuda berambut pirang, berjenggot tebal, bentuknya sempurna, ia memiliki tangan yang putih (sesuai dengan syariah-Nya) dalam berjihad melawan Tartar, maka Allah gantikan masa mudanya dengan surga dan Dia meridhainya.”Ia adalah seorang pembaru (mujaddid) dan teladan (qudwah) yang baik. Sejumlah nilai ideal melekat pada dirinya; sisi keimanan dan kekhusyukannya, sisi zuhud dan menjaga kehormatan dirinya, sisi kemampuan dan kemahirannya, sisi kejujuran dan keikhlasannya, sisi jihad dan pengorbanannya, sisi kesabaran terhadap diri dan kesabaran terhadap orang lain, sisi kebijakan dan rendah hatinya..

Ia adalah sosok yang disifati oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah sebagai:“Seorang yang pemberani, pahlawan, banyak berbuat kebajikan, punya kesadaran tinggi terhadap Islam dan menyadarkan rakyat dengannya. Ia dicintai rakyatnya dan mereka banyak berdoa untuknya.”

Apa arti seorang Quthuz, jika ia tidak berpegang tegung dengan syariah Allah, tidak menang dalam perang Ain Jalut berkat keteguhannya dengan syariah, dan tidak komitmen dengan jalan Allah SWT? Apa arti seorang Quthuz tanpa jalan ini??

Syekh Al-Izz bin Abdussalam, setelah kehilangan Quthuz dengan begitu cepat, mulai mengkhawatirkan umat ini. Khawatir, kalau-kalau kemenangan besar itu akan sia-sia dan umat mengalami kehancuran kembali. Setelah kematian Quthuz, sambil menangis sedih ia berkata, “Semoga Allah merahmati masa mudanya. Seandainya ia hidup lama tentu ia akan memperbaharui para pemudanya ke arah Islam.”

Namun, Quthuz memang telah memperbaharui para pemuda ke arah Islam, meski ia tidak hidup lama!
Daulah Mamalik selama kurang lebih tiga abad kemudian terus mendorong semangat muslimin dan mengangkat panji Islam. Quthuz telah meletakkan pondasi yang kokoh. Di atas pondasi inilah orang-orang lain akan membangun bangunan yang kuat. Tanpa pondasi ini bangunan tidak akan mampu berdiri.

Terakhir, Syekh Al-Izz bin Abdussalam berkomentar, “Tiada orang yang memerintah perkara muslimin setelah Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah yang sebanding dengan Quthuz Rahimahullah dalam kesalehan dan keadilannya.” Bilakah muncul kembali Quthuz-Quthuz muda di zaman ini? Wallahu a’lam.

Ain Jalut, Titik Balik Gelombang Jihad

Dalam waktu yang tidak berapa lama, demi merasa telah menaklukkan Abbasiyah maka Hulagu mengirim 4 orang delegasi ke Mamluk Mesir. Delegasi ini datang dengan membawa surat dari Hulagu Khan kepada Al Muzhaffar Quthuz. Surat itu berbunyi :

“Dari Raja Raja Timur dan Barat, Khan Agung. Untuk Quthuz Mamluk, yang melarikan diri dari pedang kami. Anda harus berpikir tentang apa yang terjadi pada negara-negara lain dan tunduk kepada kami. Anda telah mendengar bagaimana kami telah menaklukkan kerajaan yang luas dan telah memurnikan bumi dari gangguan yang tercemar itu. Kami telah menaklukkan daerah luas, membantai semua orang. Anda tidak dapat melarikan diri dari teror tentara kami. kemana Anda lari? Jalan apa yang akan Anda gunakan untuk melarikan diri dari kami?

Kuda-kuda kami cepat, panah kami tajam, pedang kami seperti petir, hati kami sekeras gunung-gunung, tentara kami banyak seperti pasir. Benteng tidak akan mampu menahan kami, lengan Anda tidak dapat menghentikan laju kami. Doa-doa Anda kepada Allah tidak akan berguna untuk melawan kami. Kami tidak digerakkan oleh air mata atau disentuh oleh ratapan. Hanya orang-orang yang mohon perlindungan akan aman. Mempercepat balasan Anda sebelum perang api dinyalakan.

Menolak dan Anda akan menderita bencana yang paling mengerikan. Kami akan menghancurkan masjid Anda dan mengungkapkan kelemahan Tuhanmu, dan kemudian kami akan membunuh anak-anak dan orang tua Anda bersama-sama. Saat ini Andalah satu-satunya musuh yang mesti kami hadapi.”.

Setelah membaca surat tersebut yang isinya jelas-jelas melecehkan kedaulatan Islam karena hanya memberikan dua opsi, menyerah atau berperang. Saifuddin Qutuz tidak gentar sedikitpun, malah beliau dengan berani menempeleng delegasi Mongol itu dan membunuh mereka dan kepala mereka digantung di Bab Zuweila, salah satu pintu gerbang Kairo. Dengan segera ia menggerakkan pasukannya dan memancing Mongol untuk bertempur di Ain jalut.

Quthuz melakukan itu tidak melanggar kaidah Islam yang melindungi delegasi asing yang melakukan tugas negosiasi. Karena para ahli sejarah menyatakan bahwa kedatangan delegasi Mongol tersebut bukan sekadar mengantar surat Hulagu Khan an sich, tetapi tertangkap tangan melakukan tindakan sebagai mata mata tentera Tartar.

Sebagian dari pembesar istana merasa takut dan ingin menarik diri dari dukungan, karena merasa Mesir ketika itu masih belum siap untuk menghadapi tentara Mongol yang telah menguasai wilayah yang cukup luas (dari Korea hingga Polandia hari ini). Quthuz mengumpulkan para pembesar-pembesar dan para panglima lalu berkata kepada mereka, “Wahai pemimpin kaum Muslimin! Kamu diberi gaji dari Baitul Mal, sementara kamu tidak mau berperang. Siapa yang memilih untuk berjihad, mari bersamaku. Siapa yang tidak mau berjihad, pulanglah ke rumahnya masing-masing. Allah akan mengawasi kalian. Sungguh dosa kaum Muslimin yang dilecehkan kehormatannya akan ditanggung oleh orang yang tidak ikut berjihad.”

Kata-kata Quthuz ini menjadi tamparan dan akhirnya mereka memilih untuk berjihad bersama Quthuz.
Pembiayaan perang yang tidak sedikit menjadi masalah ketika itu, dibutuhkan biaya besar untuk perbaikan benteng, renovasi jembatan, penyediaan peralatan perang dan logistik. Quthuz mengumpulkan para menteri negara untuk bermusyawarah. Kas negara betul-betul tidak mencukupi maka pilihan yang ada adalah menarik dana dari rakyat dan harus dilakukan dengan segera.

Tetapi Qutuz memerlukan dukungan para ulama untuk mengeluarkan fatwa. Tanpa fatwa Qutuz tidak akan melakukannya. Umat Islam di Mesir saat itu tidak mengenal pungutan selain hanya zakat. Diantara yang dipanggil ketika itu adalah seorang ulama yang bernama Al-Izz bin Abdis Salam Al-Izz bin Abdis Salam telah sepuh berumur 81 tahun dan terkenal karena ketegasannya. Beliau mengeluarkan fatwa yang cukup tegas:

“Apabila negara diserang musuh, maka wajib atas dunia Islam untuk memerangi musuh itu. Harus diambil dari rakyatnya harta mereka untuk membantu peperangan dengan syarat bila tidak ada asset yang tersimpan di dalam Baitul Mal. Maka setiap kalian (penyelenggara pemerintahan) hendaklah menjual seluruh asset yang dimiliki dan tinggalkan untuk diri kalian hanya kuda dan senjata saja. Kalian dan seluruh rakyat adalah sama di dalam masalah ini. Adapun tentang mengambil harta rakyat sementara pimpinan tentara masih memiliki harta dan peralatan mewah, maka penarikan harta rakyat tidak menjadi keharusan.”

Fatwa yang cukup tegas ini disambut dengan ketegasan Qutuz pula. Beliau menginstruksikan agar semua pembesar dan pimpinan perang menyerahkan seluruh asset yang mereka miliki sesuai fatwa tersebut. Hasilnya, Mesir menjadi negara yang kaya. Penyerahan harta oleh para pembesar dan pimpinan diikuti pula secara serempak oleh seluruh rakyat. Mereka menyumbangkan harta untuk memenuhi tuntutan pembiayaan perang. Fatwa Al-Izz bin Abdis Salam sangat ampuh menyelesaikan masalah keuangan dengan segera.

Kemudian Al- Qutuz segera memobilisasi tentaranya maka terbentuklah pasukan berjumlah 20. 000 orang tentara. Mereka berunding dan akhirnya memutuskan untuk menyerang tentara Mongol di luar Mesir. Ini adalah strategi ofensif dalam menghadapi tentara Mongol.

Para tentara Allah ini berangkat ke luar wilayah Mesir dan terus bergerak ke arah Palestina. Dan bertemulah mereka dengan pasukan Tartar yang dikomandani oleh Kitbuqa di Ainun Jalut. Maka terjadilah pertempuran dahsyat antara kedua belah pihak.

Saat pertempuran sengit berlangsung, al- Qutuz membuka topeng besinya dan melaju dengan kudanya ke tengah arena pertempuran sambil memberi motivasi kepada seluruh tentaranya agar berjuang sampai titik darah penghabisan untuk memburu syurga Allah. Teriakan takbir bergema di sepanjang pertempuran dan al Qutuz terus merangsek di tengah- tengah musuh.

Pada pertempuran Ain Jalut ini, al- Qutuz didampingi isterinya Jullanar yang turut menyertai dalam rombongan pasukannya. Ketika Jullanar terluka parah, al- Qutuz memapahnya sambil berkata, ”Wahai Kekasihku.” Jullanar dalam keadaan terluka parah tetap memberikan semagat kepada suaminya. Dia pun membalas ucapan mesra suaminya dengan mengatakan, ”Wahai al-Qutuz lebih cintalah kamu kepada jihad ini.” Lalu isterinya menghembuskan nafas terakhir dan gugur sebagai syahidah.

Dalam kecamuk perang yang dahsyat, kuda yang ditunggangi al Quthuz terbunuh. Dengan sigap beliau langsung melompat dan berlari menghadang musuh. Saat itu ada seorang prajurit yang menyaksikan kuda al Quthuz terbunuh. Dengan tanpa dikomando sang prajurit menawarkan kuda tunggangannya kepada al Quthuz.

“Saya tidak ingin menghalangimu untuk memberikan manfaat kepada orang lain.” Al Quthuz menghargai tawaran prajuritnya sebagai sebuah kesetiaan. Semangat jihadnya yang tinggi menjadi api yang membakar semangat para tentaranya untuk memburu syahid yang selalu diidam-idamkannya.

Qutbuddin Al-Yunaini di dalam Al-Bidayah Wan Nihayah (658H) mengatakan bahwa al Qutuz sebelum menjadi seorang Sultan pernah bermimpi bertemu Rasulullah saw, dalam mimpinya Nabi saw mengatakan kepadanya bahwa dirinyalah yang akan menguasai Mesir dan akan menang dalam perang melawan Mongol.

Setelah itu al- Qutuz terus maju ke medan pertempuran hingga akhirnya pada hari Jumat, 25 Ramadhan 658H, bertepatan dengan 3 September 1260M tentara- tentara Allah ini berhasil merebut kemenangan atas tentara Tartar di Ain Jalut. Padahal selama ini tentera Tartar tidak pernah ada cerita dikalahkan dalam setiap pertempuran. Dan andaipun kalah di beberapa pertempuran, maka mereka akan mampu menebus kembali kekalahan mereka. Akhirnya hancurlah pasukan Tartar di ujung mata pedang kaum muslimin dan tidak pernah mampu lagi menebus kekalahan mereka di Ain Jalut.


http://www.dakwatuna.com/2013/02/21/28133/al-quthuz-singa-gurun-di-ain-jalut/#axzz4NJNc7P8x

11.22 | Posted in , , | Read More »

Ada Koma Diantara Kita



Innamal mukminuna ikhwah’ kumpulan kisah dari ayat cinta ke sepuluh surat Al Hujurat. Sesungguhnya orang- orang mukmin itu bersaudara. Betapa indah kalam-Nya telah dengan benderang menyatakan bahwa Ia sengaja pula mencipta manusia dari berbagai suku, ras, dan berbagai perbedaan agar kita saling mengenal. Kita sangat perlu saling mengenal karena kita bersaudara jika masih ingin disemat kata ‘mukmin’ pada nama kita.

Imam syahid Hasan Al Banna mendefinisikan ukhuwah islamiyah sebagai keterikatan hati dan jiwa oleh aqidah. Oleh sebab itu pula beliau rahimahullah memasukkan ukhuwah sebagai salah satu rukun bai’at. Ukhuwah Islamiyah lekat persaudaraannya bahkan melampaui hubungan persaudaraan yang dilandasi nasab, suku, nasionalisme dan berbagai hal lain yang menyebabkan adanya keterikatan persaudaraan. Karena ukhuwah Islamiyyah tidak mengenal perbedaan suku, ras, status ekonomi, kebangsaan dan sebagainya. Siapapun yang muslim, di belahan bumi mana pun ia berada, maka ia saudara kita.

Dalam hadits ke tiga belas Arba’in, dari Abu Hamzah, Anas bin Malik ra, pelayan Rasulullah saw berkata, Rasulullah saw bersabda,

Seorang di antara kalian tidak beriman jika belum bisa mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.’ H.R.Bukhari dan Muslim

Dalam hadits ini disebutkan bahwa keimanan tidak dianggap kokoh dan mengakar dalam hati seorang muslim, kecuali mencintai kebaikan untuk saudaranya sebagaimana ia mencintainya untuk dirinya sendiri dan membenci keburukan untuk saudaranya sebagaimana ia membenci untuk dirinya sendiri. Sebagaimana telah diriwayatkan Imam Ahmad. Maka untuk membuktikan cintanya hendaklah sesama saudara saling jujur, bersegera memberi nasihat manakala saudaranya lalai dan segera memaafkan dan memenuhi hak ukhuwah lainnya.

Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda,
Jangan saling menghasud, saling menipu, saling membenci, saling membelakangi dan jangan membeli barang yang telah dibeli orang lain. Jadilah hamba- hamba Allah yang bersaudara. Muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Karena itu tidak menzhaliminya, tidak menelantarkannya, tidak membohonginya dan tidak melecehkannya. Taqwa itu di sini,sambil menunjuk dadanya tiga kali,. Cukuplah seseorang dikategorikan jahat jika ia menghina saudaranya sesama muslim. Darah, harta, dan kehormatan setiap muslim adalah suci terpelihara.’ H.R.Muslim

Dari berbagai penjelasan di atas, teranglah sudah bahwa kita harus menyatukan hati- hati kita sesama saudara seaqidah. Berusaha untuk saling mengenal dan memahami sehingga timbul keterikatan hati. Berjabat tangan dan memberi kado adalah salah satu upaya perlekatan hati. Rasulullah saw bersabda, berilah hadiah karena hadiah dapat menghilangkan penyakit hati.

Namun kadangkala ada masa ukhuwah itu harus pula berjeda. Seumpama tulisan yang harus berjeda dengan pembubuhan koma sebelum lanjutan keterangan lainnya. Begitu pula kadang dalam ukhuwah. Manusia yang tercipta dengan beraneka ragam polah, butuh beberapa jeda untuk menyatukan dan mempererat ikatan antar saudara. Seperti sirah para sahabat. Siapa yang tak kenal eratnya persaudaraan antara Zubair bin Awwam dan Ali bin Abi Thalib ra. Mereka dipersaudarakan Allah bukan hanya dengan nasab, tetapi juga karena pertalian aqidah. Mereka bersama- sama termasuk orang- orang awal yang memeluk Islam, yang berjuang tegakkan kalimahNya, mengikuti segala pertempuran bersama Kekasih Allah saw. Namun ada masa Perang Jamal yang membuat jeda ukhuwah antara mereka. Zubair bin Awwam bersama Thalhah bin Ubaidillah dan ‘Aisyah ra membuat aksi penggalangan massa untuk menuntut penyegeraan hukum Qishash pada pembunuh khalifah sebelumnya, Utsman bin ‘Affan ra. Sedangkan kala itu Ali ra juga disibukkan dengan berbagai pemberontakan yang terjadi. Sehingga Ali ra berijtihad memilih untuk mengatasi pemberontakan terlebih dahulu sembari tetap melakukan pengusutan pelaku pembunuhan Utsman bin Affan ra. Sayangnya orang- orang di pihak Ibunda Aisyah ra tidak mengetahui rencana Ali sehingga mereka merasa Ali belum berbuat apa- apa untuk mencari pembunuh Utsman.

Khalifah Ali menangis sedih melihat Ummul Mu’minin Aisyah berada dalam sekedup untanya memimpin pasukan pemberontak. Ketika melihat Thalhah dan Zubair, pembela- pembela Rasulullah, Ali memanggil keduanya dan keduanya memenuhi panggilan Ali.

Ali berkata kepada Thalhah, ‘Wahai Thalhah, pantaskah engkau membawa istri Rasulullah untuk berperang, sedangkan istrimu sendiri kau tinggalkan di rumah?’

Lalu ia berkata kepada Zubair, ‘Wahai Zubair, dengan nama Allah, tidakkah engkau ingat, ketika kita berada di suatu tempat, lalu Rasulullah saw lewat dan berkata padamu, ‘Wahai Zubair,apakah kamu mencintai Ali?’ kamu lalu menjawab, ‘Mengapa aku tidak mencintai anak bibiku dan anak pamanku, bahkan seagama denganku? Nabi saw kemudian bersabda, ‘Wahai Zubair, demi Allah, suatu saat kamu pasti akan memeranginya dan menzhaliminya.’

Zubair menjawab, ‘Demi Allah, aku telah lupa peristiwa tersebut semenjak aku mendengarnya dari Rasulullah. Akan tetapi, sekarang aku baru teringat lagi. Demi Allah, aku tidak akan memerangimu untuk selama- lamanya.’

Thalhah dan Zubair segera menarik diri dari perang saudara ini. Apalagi ketika melihat ‘Ammar bin Yasir ra berada di pihak Ali. Keduanya teringat sabda Rasulullah saw kepada Ammar,’Kamu akan dibunuh kelompok pemberontak’. Maka jika Ammar terbunuh dalam pertempuran ini dan keduanya berada di pihak yang melawan Ali, berarti keduanya termasuk pemberontak.

Namun syahid telah menjadi impian Thalhah dan Zubair dan Allah pun mengabulkannya di Perang Jamal. Kelompok pemberontak yang sebenarnya, yang menginginkan perang terus berlangsung, mengirim orang untuk membunuh mereka.

Mendengar kabar syahidnya kedua sahabat Rasulullah, Ali menshalati dan mengikuti pemakaman keduanya. Seusai pemakaman Thalhah dan Zubair, ia berdiri melepas keduanya dengan kata- kata indah,

‘Sesungguhnya aku benar- benar berharap masuk bersama Thalhah, Zubair dan Utsman, dalam golongan yang difirmankan Allah, ‘Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap- hadapan di atas dipan- dipan. (Q.S Al Hijr;47_

Ali telah mengakhiri jeda ukhuwah di antara mereka dengan sangat indah. Tidak perlu dipertentangkan siapa yang benar dan siapa yang salah dalam hal ini. Itu hanya pekerjaan orang- orang yang ingin memecah belah Islam. Mereka semua hanya sama- sama menjalankan ijtihad. Ali dengan ijtihadnya memilih terlebih dahulu atasi pemberontakan baru mencari pembunuh Utsman. Karena jika ia hanya fokus mencari pembunuh Utsman, maka khilafah akan terpecah belah. Apalagi Ali telah mencium gelagat bahwa pembunuh Utsman adalah pelaku pemberontakan juga. Tetapi ‘Aisyah, Thalhah dan Zubair tidak juga salah. Mereka hanya ingin bertabayyun kepada khalifah, mengapa pembunuhan Utsman kasusnya belum dituntaskan juga?

Mereka tidak pernah bermusuhan atau saling benci seperti yang dikabarkan orang- orang yang inginkan perpecahan dalam Islam. Mereka melakukan semua hanya demi tegaknya Islam di muka bumi. Ada jeda di antara mereka adalah wajar. Setiap manusia, termasuk sahabat Rasulullah saw, memiliki pola pikir dan sikap yang berbeda- beda. Kadangkala ada pertentangan di antara kita.

Seperti beberapa dekade belakangan ini dan diperuncing dengan berbagai masalah baru-baru ini. Bukan hal yang baru kita lihat sesama muslim saling menjatuhkan, memfitnah demi kepentingan pribadi, kelompok atau penguasa. Tapi bisa juga kita amati bahwa orang yang biasa menentang suatu saat datang membela dan menyayang. Sungguh hanya Allah-lah pembolak-balik hati. Maka tidak perlu kita merasa terlalu sakit hati atas serangan, cacian bahkan fitnah yang dilontarkan berbagai pihak atas kerja-kerja dakwah kita. Jikalah Zubair dan Ali ra sesama aktivis dakwah saja pernah berbeda, apatah lagi kita? Apatah lagi kita dengan orang-orang yang buta dengan dakwah?

Biarlah berbagai peristiwa ini ibarat koma yang membuat orang-orang yang selama ini jauh mau datang mendekat untuk menilai seperti apa kita sebenarnya. Mereka begitu karena mereka tidak tahu, mereka menganggap kita berbeda. Dan semua perbedaan  itu lumrah asalkan pokok pemikiran kita masih sama, menginginkan kejayaan Islam tegak di seluruh persada,sama-sama menginginkan  keadilan ditegakkan selama-lamanya. Lakukan tabayyun jika ada hal yang mengganjal antar saudara termasuk dengan teman-teman yang ‘suka menyerang’ kita. Lalu jangan henti berdoa agar hati- hati kita dipertautkan dan dipererat Allah swt.

Dialah yang memperkuatmu dengan pertolonganNya dan dengan orang- orang mukmin, Dia pulalah yang mempersatukan hati mereka, orang- orang yang beriman. Walaupun kamu membelanjakan kekayaan yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.’ Q.S.Al Anfal 62-63.


Faidul Hidayati Siska Ginting

 Islamedia.web.id

15.30 | Posted in , | Read More »

Cinta Bersemi di Pelaminan


Lupakan! Lupakan cinta jiwa yang tidak akan sampai di pelaminan. Tidak ada cinta jiwa tanpa sentuhan fisik. Semua cinta dari jenis yang tidak berujung dengan penyatuan fisik hanya akan mewariskan penderitaan bagi jiwa. Misalnya yang dialami Nasr bin Hajjaj di masa Umar bin Khattab.

Ia pemuda paling ganteng yang ada di Madinah. Shalih dan kalem. Secara diam-diam gadis-gadis Madinah mengidolakannya. Sampai suatu saat Umar mendengar seorang perempuan menyebut namanya dalam bait-bait puisi yang dilantunkan di malam hari. Umar pun mencari Nasr. Begitu melihatnya, Umar terpana dan mengatakan, ketampanannya telah menjadi fitnah bagi gadis-gadis Madinah. Akhirnya Umar pun memutuskan untuk mengirimnya ke Basra.

Disini ia bermukim pada sebuah keluarga yang hidup bahagia. Celakanya, Nasr justru cinta pada istri tuan rumah. Wanita itu juga membalas cintanya. Suatu saat mereka duduk bertiga bersama sang suami. Nasr menulis sesuatu dengan tangannya di atas tanah yang lalu dijawab oleh sang istri tuan rumah. Karena buta huruf, suami yang sudah curiga itu pun memanggil sahabatnya untuk membaca tulisan itu. Hasilnya: aku cinta padamu! 

Nasr tentu saja malu kerena ketahuan. Akhirnya ia meninggalkan keluarga itu dan hidup sendiri. Tapi cintanya tak hilang. Dia menderita karenanya. Sampai ia jatuh sakit dan badannya kurus kering. Suami perempuan itu pun kasihan dan menyuruh istrinya untuk mengobati Nasr. Betapa gembiranya Nasr ketika perempuan itu datang. Tapi cinta tak mungkin tersambung ke pelaminan. Mereka tidak melakukan dosa, memang. Tapi mereka menderita. Dan Nasr meninggal setelah itu.

Itu derita panjang dari sebuah cinta yang tumbuh di lahan yang salah. Tragis memang. Tapi ia tak kuasa menahan cintanya. Dan ia membayarnya dengan penderitaan hingga akhir hayat. Pastilah cinta yang begitu akan menjadi penyakit. Sebab cinta yang ini justru menemukan kekuatannya dengan sentuhan fisik. Makin intens sentuhan fisiknya, makin kuat dua jiwa saling tersambung. Maka ketika sentuhan fisik jadi mustahil, cinta yang ini hanya akan berkembang jadi penyakit.

Itu sebabnya Islam memudahkan seluruh jalan menuju pelaminan. Semua ditata sesederhana mungkin. Mulai dari proses perkenalan, pelamaran, hingga mahar dan pesta pernikahan. Jangan ada tradisi yang menghalangi cinta dari jenis yang ini untuk sampai ke pelaminan. Tapi mungkin halangannya bukan tradisi. Juga mungkin tidak selalu sama dengan kasus Nasr. Kadang-kadang misalnya, karena cinta tertolak atau tidak cukup memiliki alasan yang kuat untuk dilanjutkan dalam sebuah hubungan jangka panjang yang kokoh.

Apapun situasinya, begitu peluang menuju pelaminan tertutup, semua cinta yang ini harus diakhiri. Hanya di sana cinta yang ini absah untuk tumbuh bersemi: di singgasana pelaminan


*buku Serial Cinta
Anis Mata



12.09 | Posted in , | Read More »

Mukjizat Nabi Muhammad

PelitaDakwah- Syaikh Dr Muhammad Al ‘Arifi mencantumkan foto dokumentasi NASA ini dalam bukuNiyahatul ‘Alam. Foto ini merupakan salah satu bukti mukjizat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
“Foto dokumentasi NASA yang memperlihatkan bekas terbelahnya bulan,” demikian keterangan foto tersebut dalam edisi terjemahan berjudul Kiamat Sudah Dekat.
Melalui situs resminya nasa.gov, NASA merilis bahwa Apollo mission photographs of the Rima Ariadaeus pada 1969 menemukan garis keretakan sepanjang 300 Km di permukaan bulan. Garis keretakan inilah yang diyakini sebagian ulama sebagai bekas terbelahnya bulan di masa lampau.
Dalam hadits shahih yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim, penduduk Makkah yang saat itu masih kafir kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminta beliau membawakan mukjizat sebagai bukti kenabiannya. Lalu Rasulullah menunjukkan kepada mereka mukjizat terbelahnya bulan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabadikan mukjizat terbelahnya bulan itu dalam surat Al Qamar.

قْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ . وَإِنْ يَرَوْا آَيَةً يُعْرِضُوا وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّ

“Telah dekat datangnya saat itu dan bulan telah terbelah. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata, ‘(ini adalah) sihir yang terus menerus’.” (QS Al Qamar: 1-2)
Dalam Tafsir Al Quran Al Adhim, Ibnu Kastir menjelaskan bahwa peristiwa terbelahnya bulan ini terjadi pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits mutawattir. Para ulama sepakat, bahwa terbelahnya bulan ini merupakan salah satu mukjizat yang nyata.
Awalnya, orang-orang kafir Quraisy di Makkah meminta Nabi Muhammad menunjukkan mukjizat kepada mereka. Lalu dengan izin Allah, Rasulullah menunjukkan terbelahnya bulan sebagai sebuah mukjizat. Namun, meskipun mereka mendapati apa yang mereka inginkan, orang-orang kafir Quraisy itu tidak juga beriman. Mereka tetap berpaling dari Islam dan justru menuduh Rasulullah sebagai ahli sihir.
Selain garis keretakan panjang di bulan yang telah diabadikan dengan satelit NASA, terbelahnya bulan juga bisa ditemukan dalam sejarah bangsa India. Dalam sebuah transkrip kuno yang kini disimpan di museum, raja India yang hidup sezaman dengan Nabi Muhammad memberikan kesaksian bahwa ia pernah melihat bulan terbelah. 
[Muchlisin BK/Bersamadakwah] http://bersamadakwah.net/foto-dokumentasi-nasa/

15.59 | Posted in | Read More »

3 PEMIMPIN DUNIA YANG HAFAL AL QURAN


1.   RAJA SAUDI ARABIA “FAISAL BIN ABDUL AZIZ” 
      Adalah Raja Arab Saudi yang ke 3 yang menjabat mulai tahun 1964 hingga tahun 1975. Raja Faisal lahir di Riyadh pada tahun 1906 dan merupakan anak keempat Raja ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdurrahman as-Saud, pendiri Arab Saudi.

Beliau hafal 30 juz pada usia 16 tahun, menjadi panglima perang pada usia 19 tahun, memimpin timur tengah untuk melawan Israel (tidak dilakukan oleh raja Saudi lainnya), satu-satunya pemimpin Arab yang berani mengembargo minyak bumi ke Amerika Serikat dan Nato.

Raja Faisal dikenal sebagai pemimpin yang shalih, beliau membebaskan seluruh budak di Arab Saudi dengan kas pribadinya, Raja Faisal juga melakukan penyederhanaan gaya hidup keluarga kerajaan serta melakukan penghematan kas kerajaan dengan menarik 500 mobil mewah Cadillac milik istana, dana dari hasil program diatas salah satunya terealisasi pada pembangunan sumur raksasa hingga sedalam 1.200 meter untuk sumber air bagi rakyatnya dan pengairan lahan-lahan tandus.

Dalam seruan khutbah Jihadnya melawan Israel, Raja Faisal berdo’a dihadapan khalayak agar Allah menetapkan kematiannya diterima Allah sebagai orang yang terbunuh dijalanNya (Syuhada). Insyaallah terkabul ketika dibunuh Konspirasi melalui tangan keponakannya sendiri yg baru pulang dari Amerika, karena Raja Faisal menolak keinginan Presiden AS Ricard Nixon agar menghentikan Embargo Minyak Saudi pada AS & Nato.
2.   PERDANA MENTERI PALESTINA “ISMAIL HANIYA”
      Beliau adalah seorang Perdana Menteri yang hafal 30 juz Al-Quran, bahkan anaknya yang bernama Aid berhasil menyempurnakan hafalan Alquran dalam 35 hari dan memperoleh gelar mumtaz (sempurna). Ismail Haniya memiliki sanad hafalan yang tersambung ke Rasulullah Sallallaahu ‘alayhi wa sallam, dan hampir setiap Jum’at menda’wahkannya kepada rakyatnya di berbagai masjid di Palestina. Subhanalloh..

Dan dalam sebuah artikel berita yang pernah saya baca bahwa beliau adalah seorang Imam sholat tarawih di bulan Ramadhan yang selalu dinanti kehadirannya oleh banyak jamaah ketika beliau menjadi Imam Sholat Tarawih.
3.   PRESIDEN MESIR “Dr. MOHAMMED MURSI”
      Merupakan Presiden Mesir pertama yang hafal Alquran. Pria bernama lengkap Mohammed Mursi Issa Ayyat adalah seorang kapala keluarga yang patut dicontoh, prestasinya di bidang akademik, ilmu keagamaan dan organisasi tidak diragukan lagi.

Keberanian menegakkan kebenaran dibuktikan dengan mencicipi pahitnya penjara di masa Rezim Mubarak berkuasa, bahkan keluarganya turut menjadi sasaran penangkapan, anaknya Dr. Ahmad juga pernah dipenjara. Seperti halnya Presiden pertama kita Ir. Soekarno yang juga sering keluar masuk tahanan belanda (Satrio Kinunjoro Murwo Kuncoro) karena usahanya dalam membebaskan Rakyat dari penindasan penguasa.

Dr. Muhammed Mursi adalah seorang Hafidz yaitu hafal Al Quran 30 Juz (Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu), tidak hanya dirinya yang hafidz, bahkan seluruh keluarganya yaitu Istri dan lima orang anaknya semuanya telah hafal Alquran.30 Juz, Subhanalloh..Kita Bangsa Indonesia merindukan sekali kehadiran seorang pemimpin yang senantiasa ber-Al-Qur'an dalam setiap sisi kehidupannya, begitu juga manakala dia diamanati sebagai seorang pemimpin sebuah negara.
 
(http://masjidskalekan.blogspot.com/2013/04/3-pemimpin-dunia-yang-hafal-al-quran.html)

07.48 | Posted in , , | Read More »

CATATAN CINTA

ISLAM MANCANEGARA

BELAJAR FIQIH

SASTRA ISLAMI

Recently Added

KELUARGA

INSPIRASI TOKOH

DUNIA QUR'AN