BERBAGI ILMU

Akhwat Sejati



 Seorang gadis kecil bertanya kepada ayahnya,
"Abi, ceritakan padaku tentang akhwat sejati"
Sang ayah pun menoleh kemudian tersenyum.
Anakku,


Seorang akhwat sejati bukanlah dilihat dari kecantikan paras wajahnya, melainkan dari kecantikan hati yang ada di baliknya.

Akhwat sejati bukan dilihat dari bentuk tubuhnya yang mempesona, melainkan dilihat dari sejauh mana ia menutupi bentuk tubuhnya.

Akhwat sejati bukan dilihat dari begitu banyaknya kebaikan yang ia berikan, melainkan dari keikhlasannya memberikan kebaikan itu

Akhwat sejati bukan dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya, melainkan dari apa yang sering mulutnya bicarakan.

Akhwat sejati bukan dilihat dari keahliannya berbahasa, melainkan dari bagaimana cara ia berbicara.

Sang ayah diam sejenak sembari melihat ke arah putrinya.
"Lantas apa lagi Abi?" sahut putrinya.
Ketahuilah putriku...


Akhwat sejati bukan dilihat dari keberaniannya dalam berpakaian, melainkan sejauh mana ia berani mempertahankan kehormatannya.

Akhwat sejati bukan dilihat dari kekhawatirannya digoda orang di jalan, melainkan kekhawatiran dirinyalah yang mengundang orang jaadi tergoda

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besarnya ujian yang ia jalani, melainkan sejauh mana ia menghadapi ujian itu dengan penuh rasa syukur.

dan ingatlah...
Akhwat sejati bukan dilihat dari sifat supelnya dalam bergaul, melainkan sejauh mana ia bisa menjaga kehormatannya dalam bergaul.

Setelah itu sang anak kembali bertanya,
"Siapakah yang dapat menjadi kriteria seperti itu Abi?"
Sang ayah memberikannya sebuah buku dan berkata, "Teladanilah mereka"

Sang anak pun mengambil buku itu dan melihat sebuah tulisan
"Istri Rasulullah"
Written by :

Ibnu Hadi



Sumber :http://arsitek-peradaban.abatasa.co.id/post/detail/8336/sebuah-renungan

16.00 | Posted in , | Read More »

Jilbab Seorang Pemulung di Sudut Kota Pontianak



               
Ilustrasi
Suatu hari aku mendapati pemandangan indah didepanku. Sebuah keluarga besar terdiri dari 4 orang anak dan dua orang tua melintas dihadapanku yang sedang menjemput keponakan di MTs 1 Pontianak. Keluarga in begitu damai dan dari pancaran wajahnya terlihat garis-garis kebahagiaan. Tahukah anda siapa mereka? 

                Suaminya mendorong gerobak yang dinaiki 3 orang putra-putrinya. Sementara Sang Istri menggendong si kecil yang baru beberapa hari  mencium bau dunia sambil menenteng payung karena panasnya cuaca siang itu memanggang kota Pontianak. Sambil menggendong sang istri juga sesekali memunguti gelas-gelas kosong bekas minuman yang ditemui dijalan. Sebuah romantisme cinta dan kerja yang begitu harmoni pada keluarga ini.  Ditengah teriknya suasana di siang itu,  wajah tegar mereka menaklukkan kota seolah menyirami suasana yang panas dan keletihan menunggu.  Mereka penyejuk hati yang ternyata bukan hanya kutemui sekali itu saja. Tapi juga hari-hari selanjutnya.  Siapa mereka? Aku yakin tak banyak yang mengenal dan peduli pada mereka?

                Paling istimewa adalah keistiqomahan sang istri membalutkan selembar mutiara wanita muslimah pada kepalanya. Hebatnya wanita ini. Ditengah kerasnya kehidupan yang dilaluinya ternyata tak membuatnya takluk dari godaan untuk menanggalkan jilbabnya. Kontras dengan kebanyakan wanita-wanita berpendidikan nan kaya yang dengan mudahnya mengobral kecantikannya kepada banyak orang. Tahukah Anda siapakah wanita ini?

                Dia muslimah pemulung dari suatu sudut kota di Pontianak. Jilbabnya bukan jilbab yang pendek tapi jilbab yang lebar yang biasanya dipake akhwat-akhwat pengajian. Jilbabnya bukan hanya dipake disuatu moment kehidupan tapi selalu dipakai setiap harinya. Setidaknya keistiqomahan itulah yang selalu kudapati saat melihatnya dari kejauhan. 

Seorang Penyair berkata:

Pernahkah terpikirkan oleh kita, saat seorang muslim meninggal dunia, mereka wajib menghadap Allah dengan aurat tertutup. Seharusnya semasa didunia, kita berusaha sekuat tenaga menutup aurat-aurat kita. Sebelum waktu yang memaksa kita harus menutupnya selamanya

Ya Allah rahmatilah keluarga pemulung ini
Ya Allah tinggikanlah derajatnya disisimu
Muliakanlah mereka dilangit dan dibumimu
Jadikanlah mereka inspirasi bagi kami untuk selalu menjaga ketakwaan kepadaMu
Dalam kondisi bagaimanapun kehidupan kami

06.02 | Posted in , , | Read More »

Saudariku, Banggalah Berjilbab Syar’i


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjtc3qu72opAnb5igkEl5GYa86qUgGbkVSw2d2ihR6o0vZYkleEF-MbQrVcN2ACsLaS43emXX00ge_m5gpez2tbrWv2mOHWP359s6bQoD8tppyVjSDEzjeRba7EJjybahyphenhyphenuipW83wiY0VKU/s320/2.png
PelitaDakwah - Saya tiba-tiba teringat dengan percakapan bersama adik kelas, laki-laki, waktu di kampus dulu. Tak seperti biasanya, dia yang memulai awal diskusi. Biasanya dia lebih banyak diam mendengarkan. Tampak sekali raut penasaran pada wajahnya.

“Bang, jadi akhwat muslimah berjilbab lebar tu, kalau jalan harus nunduk gitu ya bang? Trus klo disapa gitu ‘cool’ banget. Blum lagi kalau ditanya, jawabnya dikit-dikit, ditanya satu-jawabnya satu,” cerocosnya penasaran memulai diskusi kami.

“Hehehe…nasib ente aje bro, baru ketemu yang begituan. Muslimah itu sama kayak kita-kita ini. Ada yang melankolis, plegmatis, koleris bahkan sanguinis sejati yang bikin ente satu kelas senyam senyum mulu,” terang saya.

“Nah, kebetulan aja,” lanjut saya, “ente baru ketemu dengan para melankolis,”
“Oo, gitu ya bang? Tapi masak sih ada yang beda dari itu. Perasaan sama semua deh,” ujarnya.

“Ente sih, kurang baca sirah (sejarah) nabi dan sahabat. Dari dulu dah ada bro, emang beda-beda gitu, sama kayak kita,” jawab saya.

“Dulu itu,” jelas saya mengisahkan, “sudah ada muslimah yang jago bela diri seperti Nusaibah binti Ka’ab yang melindungi Rasulullah ke manapun beliau bergerak dalam perang… mhhmm, koleris banget gak neh? Dan ane pun pernah ketemu dengan yang beginian, karena hobby karate sejak SMP, setiap dia maen volley dan dapat giliran service, tu bola biasanya gak balek lagi, karena sangking kenceng mukulnya… hehe”.

“Baru dengar yang beginian bang…” jawabnya dengan mata membulat (serius dengar atau shockkale ya, wkwk)

“Juga ada yang ketika rapat, klo dah dikasih giliran ngômong, teruusss aja ngomong ngasih pendapat. Hingga lebih dari dua orang bilang ‘cukup…cukup…cukup’, baru berhenti. Itu pun dari awal ngomong suaranya tenor mulu… ckckck… bayangin…tu stamina dari mana coba?” (Hahaha…)

“Atau ente jangan-jangan juga belum pernah dengar ada akhwat muslimah yang pulang mudik sendirian pake motor, lewat pesawangan tengah malam? (soalnya masih single gitu… qiqiqi). Sesungguhnya dia memiliki kepribadian kuat dan pemberani seperti seorang shahabiyah Hani’ binti Abu Thalib.”

“Juga ada yang sanguinis, bawaannya ceria seperti bunda ‘Aisyah RA. Humornya, humor cerdas, tak pernah nyakitin dan merendahkan orang lain, apalagi merendahkan dirinya,”

“Juga ada yang doyan membentak (mungkin juga dengan mata melotot… ini mungkin ya, sebab belum pernah lihat yang sampai melotot… tapi klo membentak ada banyak… hehe), bahkan tertawa terbahak (bukan terbahak-bahak ya) seperti Hafshah Ra…”

“Tentunya, tak ketinggalan yang berkarakter lembut dan keibuan seperti Khadijah RA” terang saya.

“Wahhhh, jadi gak semuanya nunduk dan pemalu gitu ternyata ya bang?” tanyanya dengan wajah berbinar (heran, kok bisa senang gini neh anak? Qiqiqi)
“Ya betul gitu,” jawab saya. “Tapi perlu diingat bro, karakter mereka emang beda-beda, namun memiliki satu kesamaan,”
“Apa tu bang?” tanyanya penuh semangat.

“Apapun karakternya, muslimah yang baik itu, jika kau coba-coba menggodanya, apalagi iseng-iseng menyentuh tangannya… yang pandai bela diri akan langsung pasang kuda-kuda untuk menghantammu bro… atau yang gak pandai bela diri… akan langsung jongkok ambil batu, siap nimpukin kepalamu (reaksi fitrah batu gilingan cabe :p), hahahaha,” tukas saya dengan jenaka.

“Ahh, abang ne ada-ada aja,” jawabnya nyengir.
Ya, begitulah Islam. Islam tak kan menghapus warna-warni nan indah. Ia bahkan memadukannya bersama syariat agar semakin teduh dan sedap di pandang mata.

Saudariku, banggalah jadi muslimah berjilbab syar’i…

Akmal Ahmad


08.17 | Posted in | Read More »

Khadijah, Wanita Tangguh Pendamping Rasulullah SAW


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiSzk-zr-bsvibLsXsDXkCmuWy8i0UFlmiifP2A8mn6Fp5iqQkPwbYy_HqLBb70kVZcXrTk4Jd0whvuXlU8i2G3kS60zJXqBPMYR1P59nzW8mj-CD_sqPaQwH38cmi86PpD7mFAIPhyphenhyphenpKJb/s1600/KHADIJAH.jpg
Pelitadakwah - “Wanita penghuni surga yang paling mulia ada empat, yaitu Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan Asiyah istri Fir'aun,” kata Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas.

Tentang keutamaan Khadijah, memang tak perlu diragukan lagi. Ia adalah orang pertama yang mendukung penuh tentang kenabian Muhammad SAW. Ia juga relakan seluruh hartanya yang berlimpah demi kemajuan Islam.

Bahkan, ia juga baktikan seluruh jiwa dan raganya, hingga Allah SWT menakdirkan ia meninggal di tengah-tengah masa perjuangan tanpa sempat menikmati sinar-sinar kejayaan Islam.

Dari sela-sela kisah hidupnya yang sangat mulia itu, kita menemukan satu karakter kepribadian khas yang umum dimiliki oleh kaum wanita utama lain.

1. Tokoh masyarakat
Ia disunting pertama kalinya oleh Atiq bin Abid. Begitu sang suami meninggal ia menikah dengan Abu Halah, tetapi harus menjanda kedua kali karena suaminya ini juga meninggal. Setelah itu banyak tokoh quraisy yang datang untuk melamar, namun semua itu ditolaknya secara halus.

Kedudukannya di tengah masyarakat quraisy sangat terhormat. Bukan karena keturunan dan harta, melainkan karena kepribadian dan budi pekertinya yang luhur. Ia bahkan dijuluki “At Thahirah”, yang berarti Si Wanita Suci.

2. Aktif bekerja
Masyarakat mengenal Khadijah sebagai pedagang yang sukses. Selain memiliki banyak budak laki-laki dan perempuan, Khadijah juga menyewa banyak orang untuk menjualkan barang-barangnya ke luar negeri. Apakah kesuksesan itu ia peroleh dengan cara mudah? Tentu saja tidak.

Tak jauh berbeda dengan keadaan pedagang lainnya, yang harus banyak berpergian mencari barang-barang bermutu untuk diperjual belikan kembali. Selain jeli, pedagang juga harus pandai membangun kerjasama dengan rekanan maupun karyawan.

3. Berani dan percaya diri
Sebagai istri, Khadijah memberikan dukungan penuh kepada Muhammad SAW untuk menempuh jalan kebenaran, sekalipun tak lazim. Pilihan suaminya untuk menyepi ke gua Hira misalnya, termasuk sangat aneh dan dinilai tak berguna.

Bagaimana mungkin seseorang meninggalkan kehidupan nyaman bersama anak istri dengan harta berlimpah, kemudian mengasingkan diri ke sebuah gua di puncak bukit di tengah padang pasir tak berpenghuni selama berhari-hari.

Tapi tanpa khawatir omongan orang, Khadijah dengan setia mengurusi kebutuhan suaminya saat berkhalwat di gua Hira. Jika perbekalan habis, Khadijah akan mengantarkan tambahannya, dan ia harus mendaki tebing terjal yang kemiringannya nyaris 45 derajat. Terkadang ia juga menyertai suaminya dengan mendirikan tenda tak jauh dari bukit dan tinggal di sana.

Hal itu Khadijah lakukan semua hanya dengan satu tujuan; mencari kebenaran yang secara rasio akal mustahil datang ke tengah-tengah bangsa mereka yang jahiliyah itu. Sebuah tujuan yang tak bisa dipahami orang lain, namun Khadijah berani menentangnya!

4. Pengayom
Usia dan pengalaman hidup Khadijah turut berperan menumbuhkan karakter pengayom dalam dirinya. Ketika menikah dengan Muhammad SAW, ia berusia 15 tahun lebih tua, dan telah menikah dua kali serta memiliki anak. Secara psikologis, kepribadiannya yang keibuan dan pengayom itu memberikan kasih sayang figur seorang ibu yang tidak diperoleh sempurna oleh Muhammad SAW selama hidupnya.

Secara fisik dan psikologis, Khadijah memang memiliki banyak kelebihan dibanding suaminya yang masih 'hijau' dalam kehidupan berumah tangga. Ini membuatnya memiliki kedudukan yang cukup dominan dalam rumah tangga, bahkan mampu mengambil peran sebagai pelindung suaminya. Kondisi ini tecermin saat Muhammad mengalami keguncangan karena datangnya wahyu, ia tidak terpengaruh, namun justru mengambil posisi sebagai penyelamat keadaan.

Hebatnya, dominasi kepemimpinan yang ia miliki terhadap suaminya itu tetap ia batasi, sehingga tidak sampai merebut kepemimpinan rumah tangga dari tangan suaminya. Sebagai istri shalihah, Khadijah mengambil posisi sebagai bawahan yang taat pada keputusan-keputusan suaminya dalam urusan rumah tangga mereka.

Kepribadian Khadijah ini cukup mewakili karakter kaum muslimah secara umum yang aktif dan dinamis, serta memiliki kecenderungan untuk lebih dominan terhadap suaminya. Ternyata Allah memberikan pengakuan dan pembenaran terhadap kebaradan karakter jenis ini, sepanjang tetap berada dalam batas-batas etika Islami.

Bukankah ada muslimah yang aktif bekerja maupun bermasyarakat, ada pula yang memiliki kecenderungan lebih dominan dibanding laki-laki, bahkan mendapat legitimasi dari masyarakat mengenai peran yang ia lakukan sehingga membuat ia mendapat kedudukan terhormat di tengah mereka?

Maka ini adalah salah satu jenis karakter kepribadian yang boleh jadi akan mengantar pemiliknya menuju surga, selama hal itu diarahkan di jalan Allah SWT. Wallahua'lam

Cepy Pramana

21.15 | Posted in , , | Read More »

CATATAN CINTA

ISLAM MANCANEGARA

BELAJAR FIQIH

SASTRA ISLAMI

Recently Added

KELUARGA

INSPIRASI TOKOH

DUNIA QUR'AN