BERBAGI ILMU

Ayah dan Ibu Kekasihku


PelitaDakwah- JIKA  beliau ﷺ bicara tentang insan yang amat dicintainya, “Dia di neraka”, dapatkah sejenak kita bayangkan apa yang dirasanya saat kalimat itu bergema?
Jika suatu kali Al Musthafa ﷺ yang memang tak diizinkan berdusta harus mengatakan pada seorang sahabat yang bersedih, “Ayahku dan Ayahmu di neraka”, untuk menunjukkan tenggangrasa terdalam dari jiwanya yang lembut, dapatkah kita sejenak menempatkan hati ini ke dalam dada beliau ﷺ?
Dan jika perbedaan pendapat para ‘ulama tentang siapa yang dimaksud “Ayah” dalam hadits itu kita jadikan sebagai sumber perpecahan padahal beliau ﷺ berharap dapat menyambut dan menghulurkan minum pada semua ummat di telaganya, apa kiranya yang akan beliau ﷺ katakan?
Kumohon, hentikan.
Dengan penuh cinta Imam An Nawawi dan para ‘ulama lain telah mengajukan hujjahnya . Jika benar bahwa kedua orangtua Rasulillah ﷺ di dalam neraka, maka bukankah yang benar tak selalu harus diungkit senantiasa?
Bukankah Abu Dzar benar ketika memanggil Bilal, “Hai anak budak hitam!”? Tapi bukankah dia ditegur Sang Nabi ﷺ dengan tudingan ke wajah, “Kau, dalam dirimu masih terdapat jahiliah?” Dan Abu Dzarpun menyungkur ke tanah, menaburkan pasir ke wajah, serta meminta Bilal menginjak kepalanya, yang tentu ditolak oleh si kebanggaan Habasyah.
Sebagaimana pula dengan penuh ta’zhim Imam As Suyuthi telah berpanjang menjelaskan masa fatrah dan kedudukan surgawi Ayah-Bunda Rasulillah ﷺ. Dan bahwa sebagaimana Azar ternyata adalah Paman Ibrahim, tak dapat tempatkah ta’wil bahwa “Ayah'” di dalam hadits itu adalah orang yang membesarkan Al Musthafa sejak dia ditinggal Kakeknya, yang memanggilnya “Anakku” dan lebih mencintai beliau dibanding putra-putra kandungnya, yang melindunginya dengan segala punya?
Kumohon hentikan. Di kala hujjah sudah bertemu hujjah, sesungguhnya hujat tiada lagi mendapat tempat. Perbedaan ini jangan menghalangi kita dari ilmu, ‘ulama, dan mencintai guru-guru.
Apalagi ini tentang Ayah-Ibu Kekasihku.
Bukan, bukan karena engkau berpegang pada sesuatu yang benar lalu engkau tercela. Sebab memang yang benar lebih berhak untuk dihiasi akhlaq mulia. Izinkan aku sejenak mengajakmu berkaca, kepada para salafush shalih dalam menakar cinta.
“Sungguh keislamanmu wahai Paman Rasulillah ﷺ”, ujar ‘Umar kepada ‘Abbas ibn ‘Abdil Muthalib saat mereka bersua menjelang Fathu Makkah, “Lebih aku cintai dari keislaman Al Khaththab ayahku.”
Ini bukan karena cintanya pada sang Ayah kurang; ini semata sebab ‘Umar mengukur sikapnya dari hati manusia yang paling dicintainya, Muhammad ﷺ. ‘Abbas adalah Paman yang paling mengasihi Rasulullah setelah Abu Thalib.
“Wahai Ayahanda”, ujar ‘Abdullah ibn ‘Umar kepada bapaknya kelak, “Mengapa bagian Usamah ibn Zaid kautetapkan lebih banyak daripada bagian Ananda, padahal kami berjihad bersama di berbagai kesempatan?”
“Karena”, ujar Sayyidina ‘Umar sembari tersenyum sendu, “Ayah Usamah, Zaid ibn Haritsah, lebih dicintai Rasulullah ﷺ daripada Ayahmu.” Lagi-lagi ‘Umar mengukur sikapnya dari hati yang paling dia muliakan, hati Muhammad ﷺ.
Di kala Rasulullah ﷺ memasuki Makkah dan Masjidil Haram, Abu Bakr datang menuntun ayahnya kepada beliau. Ketika Sang Nabi ﷺ melihat Abu Quhafah yang sepuh lagi telah buta, beliau bersabda, ‘Ya Aba Bakr, kenapa engkau tidak silakan ayahmu duduk di rumah dan aku sajalah yang datang pada beliau?’
“Ya Rasulallah”, jawab Ash Shiddiq, “Ayahku lebih berhak berjalan kepadamu daripada engkau datang kepadanya’. Rasulullah ﷺ mendudukkan Abu Quhafah di depan beliau, mengusap dadanya, dan bersabda kepada-nya, ‘Masuk Islamlah’. Abu Quhafah pun masuk Islam.
Tepat di saat Abu Quhafah menghulurkan tangan untuk berjanji setia pada Rasulillah ﷺ, Abu Bakr malah menangis. Sesenggukan sedunya hingga mengguncang bahu. Semua yang hadir bertanya-tanya. Bukankah di hari itu, Abu Bakr harusnya berbahagia menyaksikan keislaman ayahnya? Bukankah suatu kesyukuran besar menyaksikan orang yang kita kasihi dibuka hatinya oleh Allah untuk menerima hidayah?
Namun Ash Shiddiq yang agung berkata pada Sang Nabi ﷺ, “Demi Allah. Aku lebih suka jika tangan Pamanmu ya Rasulallah, menggantikan tangannya, lalu dia masuk Islam dan dengan begitu Allah membuatmu ridha.”
Paman yang dimaksud tentulah Abu Thalib. Dia yang telah memberikan seluruh daya upaya di sisa usianya untuk membela dakwah keponakan tersayangnya, namun hidayah tak menjadi haknya. Betapa mengerti Abu Bakr akan isi dada Rasulillah ﷺ. Sahabat sejati, selalu mengukur sikapnya dari hati sang kekasih.
Lalu kini, jika kita menyebut-nyebut dengan santainya tentang neraka atau surgakah orang yang disayanginya, tak hendakkah kita sejenak bertanya, “Di mana kita dari Adab Abu Bakr dan ‘Umar itu dalam menakar cinta?”
Mari belajar menghadirkan sudut pandang Rasulillah ﷺ, bukan hanya pengetahuan tapi juga rasa; dalam setiap isi dada, kata-kata, dan perilaku kita. Inilah jalan sunnah yang penuh cinta.*
Sumber : http://www.hidayatullah.com/kolom/salam-dari-salim/read/2016/08/05/98866/ayah-dan-ibu-kekasihku.html
diambil di FB: Salim A Fillah dan Twitter: @salimafillah

11.11 | Posted in | Read More »

Pelik Ceri dan KEBUN yang Serba Mengerti



“..People believe what they want to believe..”

PADA umumnya kita cenderung mencari apa yang kita sukai, membaca apa yang menarik bagi diri, dan memerhatikan hanya hal-hal yang sesuai dengan ketakjuban pribadi. Hal ini wajar dan alami, selama kita tetap ingin mendapatkan kebenaran dengan meneliti, menelaah, membandingkan, dan memburu kesahihan meski dari sumber-sumber yang tak sewarna.
Tapi bagaimana jika ternyata pihak-pihak yang amat kuat di dunia ini bersekutu untuk membawa kita hanya pada pembenaran, dan bukan kebenaran? Yakni bahwa mereka bekerja keras untuk menyajikan hanya hal-hal yang sesuai dengan preferensi kita saja, dan dengan saringannya membuang berbagai keterangan yang tak kita favoritkan meski sebenarnya amat kita perlukan?
“Perlu kita ketahui”, tulis Yunda Ika Karlina Idris dalam anggitannya yang dimuat Harian Kompas 23 Mei 2016 bertajuk ‘Internet dan Ancaman Polarisasi Opini’, “Google dan Facebook sebagai mesin pencari dan situs jejaring sosial paling populer memiliki sistem rekomendasi yang menyesuaikan dengan perilaku berinternet kita.”
“Pada tahun 2011”, lanjut beliau, “Eli Pariser, seorang penggiat kampanye daring, dalam bukunya The Filter Bubble: What the Internet Is Hiding from You, menuliskan bahwa Google dan Facebook melakukan personalisasi informasi dalam sistem rekomendasi mereka. Setiap pencarian informasi di Google akan tercatat, setiap interaksi dan perubahan profil di Facebook akan tercatat. Nantinya, catatan inilah yang digunakan dalam merekomendasikan sebuah informasi. Pariser pernah menguji dengan cara meminta teman-temannya memasukkan kata yang sama di Google dan ternyata hasil yang diberikan mesin pencari tersebut berbeda ke setiap orang. Dengan kata lain, Google dan Facebook menciptakan gelembung informasi yang berbeda pada tiap penggunanya.”
Betapa berbahaya.
Karena dengan demikian, sesungguhnya informasi, kabar, berita, dan pengetahuan yang akan kita asup memang hanya itu-itu saja, hanya yang meneguhkan pilihan kita, hanya yang mengokohkan sikap yang sudah kita ambil sejak semula. Subjektivitas kita dikuatkan habis-habisan dan objektivitas kita kian dicekik. Kita digiring menuju sebuah kutub ekstrem yang, -sayangnya-, memang kita syahwatkan.
Pada pemilihan Presiden Republik Indonesia tahun 2014 misalnya, mereka yang sejak awal memilih menjadi Prabowo Lover sekaligus Jokowi Hater akan terus digerojok tautan yang kian meneguhkan cinta dan benci itu, hingga menolak untuk mengakui bahwa di pihak seberangpun masih ada kebaikan. Sebaliknya, mereka yang sejak semua memproklamasikan diri sebagai Pro-Jokowi dan Anti-Prabowo juga akan dibanjiri berbagai rekomendasi artikel yang semakin membabibutakan pembelaannya dan menafikan sama sekali adanya keutamaan di pihak lawan.
Betapa berbahaya. Ia bisa membawa anak bangsa ini terkutubkan ke dua ekstrem yang saling berhadapan.
Tapi ia kian berbahaya jika terjadi dalam perilaku beragama dan bahkan berdakwah kita, para muballigh, dan para penyimaknya.
مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعاً كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
“..Dan janganlah kalian termasuk orang yang menyekutukan Allah. Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan adalah mereka bergolong-golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga hanya dengan apa yang ada pada golongannya.” (QS Ar Ruum [30]: 31-32)
“Yakni”, catat Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya, “Janganlah kalian menjadi seperti orang-orang musyrik yang memecah belah agama mereka dengan cara mengganti, mengubah, serta mengimani sebagian dan mengingkari yang lainnya.” “Maka”, simpul Ibn Taimiyah yang termaktub dalam kitab Dar’ut Ta’arudh, “Tidak boleh bagi siapapun mengangkat orang dan mengajak umat ini untuk mengikuti pola hidup dan peraturannya, senang dan membenci karena dia selain Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan ijma’ Ulama Sunnah.”
Dulu kita mengira, “memecah belah agama” adalah soal yang besarnya sebesar konspirasi jahat, sebesar upaya-upaya sistematis dan terstruktur untuk menghancurkan ummat ini dengan berbagai strategi yang dahsyat. Dalam bayangan kita, pelakunya terasa jauh dan tak terjamah. Dalam benak kita, kita adalah selalunya korban.
Subhaanallaah. Bagaimana jika sebenarnya kita adalah juga pelaku?
Bagaimana jika “farraquu diinahum” juga meliputi “membagi-bagi agama” ketika kita menyampaikan Islam yang sempurna dan menyeluruh ini dalam tema-tema khusus lagi terbatas, yang lalu membuat para penyimaknya mengidentifikasi Islam sebagai hanya apa yang kita sampaikan? Wajah daridiin yang syamil dan kamil ini telah sedemikian rupa dibentuk secara unik oleh apa yang disampaikan para penyerunya.
Bukankah sebagian dari kita telah memilih tema tarbiyah dan perwujudannya dalam politik sebagai arus utama pemahaman Islam; sehingga meski di kalangan para ’ulamanya pemahaman tentang kemenyeluruhan dan kesempurnaan Islam tampaknya mapan, di tingkat terbawah ia seakan membawa kesan bahwa bagian terpenting dari Islam adalah bersiyasah?
Bukankah sebagian dari kita memilih tema khilafah sebagai jawaban final atas berbagai persoalan ummat; sehingga meski di kalangan para ‘ulamanya pemahaman tentang kemenyeluruhan dan kesempurnaan Islam tampaknya mapan, di tingkat terbawah ia seakan membawa kesan bahwa yang paling harus diperjuangkan dari Islam adalah khilafah?
Bukankah sebagian dari kita memilih tema sunnah dan bid’ah sebagai hal yang terus diulang untuk menyadarkan ummat; sehingga meski di kalangan para ‘ulamanya pemahaman tentang kemenyeluruhan dan kesempurnaan Islam tampaknya mapan, di tingkat terbawah ia seakan membawa kesan bahwa Islam ini hanya hendak mengeluarkan orang-orang yang belum menginsyafi kebid’ahan diri dari barisannya?
Bukankah sebagian dari kita memilih tema fadhilah ‘amal sebagai hal yang harus ditekankan di tiap perjalanan dakwah 4 bulanan; sehingga meski di kalangan para ‘ulamanya pemahaman tentang kemenyeluruhan dan kesempurnaan Islam tampaknya mapan, di tingkat terbawah ia seakan membawa kesan bahwa perjuangan Islam ini hanya absah ditegakkan dengan meninggalkan berbagai urusan dalam jangka waktu yang panjang?
Bukankah sebagian dari kita memilih tema Rukun Iman, Rukun Islam, dan Rukun Tetangga yang berupa Yasinan, Tahlilan, hingga Manaqiban dalam menjaga harmoni ummat; sehingga meski di kalangan para ‘ulamanya pemahaman tentang kemenyuluruhan dan kesempurnaan Islam tampaknya mapan, di tingkat terbawah ia seakan membawa kesan bahwa Islam ini hanya hendak melestarikan apa yang sudah ada dan tak hendak bergerak lebih gesit menghadapi tantangan?
Bahkan bukankah secara pribadi-pribadi sebagian kita memilih tema yang khusus semacam shadaqah hingga ummat menduga seluruh masalah mereka akan selesai dengannya, memilih tema tazkiyatun nafs hingga ummatpun mengira segala persoalan akan selesai dengan sendirinya dengan itu, memilih tema dzikir dan shalawat hingga ummatpun mengira semua persoalan dunia ini terjawab damai-damai dengannya?
Kutub-kutub pemahaman keagamaan kita ternyata jauh lebih banyak dibanding soal terekstremkannya masyarakat antara memilih Prabowo atau mendukung Jokowi, dan bahkan lebih pelik dalam soal saling mengelirukan dan menganggap pihaknya paling sempurna.
Bukan. Memang salahnya bukan pada pilihan tema seperti telah kita sebut di atas kiranya.
Pilihan tema tertentu, jika memang di sanalah keahlian kita bukanlah kesalahan. Pilihan tema tertentu, jika disebabkan yang kita lihat menjadi prioritas ummat adalah hal itu juga bukanlah kesalahan. Bahkan pilihan untuk berada dalam sebuah harakah dakwah yang memiliki gerakan spesifik di bidang garap tertentu barangkali juga bukanlah kesalahan, sebab kita memang perlu beramal jama’i untuk menjawab tantangan yang kian rumit. Mungkin yang salah bukan itu semua. Yang keliru adalah jika:
مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعاً كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
“..keadaan mereka bergolong-golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga hanya dengan apa yang ada pada golongannya.” (QS Ar Ruum [30]: 32)
Maka tulisan ini adalah muhasabah diri kami, dan ajakan evaluasi bagi para da’i penebar ilmu dan cahaya Allah. Adakah kita punya peran bagi keadaan ummat yang kian terkotak-kotak? Adakah kita punya andil dalam menyuburkan semangat “inilah Islam” dalam wajah sempit tapi dianggap sebagai yang sejati hingga ummatpun bergolongan-golongan dan setiap golongan bangga hanya dengan apa yang ada di dalam kelompoknya? Adakah kita selalu menyampaikan ayat yang mulia dan hadits yang suci dengan rasa hati dan nada bahasa “kitalah yang berada di atas jalan haq sedang yang selain kita bathil adanya”?
Bagi kita yang awam penyimak pun demikian, karena kita semua berkecenderungan melakukan cherry picking arguments. Sebagaimana orang pilih-pilih ketika memetik ceri, ini adalah kesalahan logika di mana kita membangun argumentasi hanya berdasar pendapat atau data yang menyokong apa yang telah kita pilih sebagai sikap dan kita klaim sebagai kebenaran, tanpa mempertimbangkan keseluruhan data atau pendapat lain yang sebenarnya sebagiannya membantah klaim tersebut. Saat mengajipun, pertimbangan pilih-pilih kita bukan soal manakah yang benar dan keliru, melainkah manakah yang cocok dengan preferensi.
Dan dunia maya, seperti telah kita uraikan dalam pengantar tulisan ini, adalah penyubur dahsyat bagi ‘perhujjahan memetik ceri’ yang kita lakukan itu. Sebab mereka punya perkebunan ceri yang amat besar dan telah serta terus pula dengan teliti mencatat selera kita atas ceri; warnanya, tingkat kemanisannya, derajat keasamannya, kadar vitamin, bahkan seberapa kandungan bakteri di dalamnya, dan tentu juga racunnya.
Google dan Facebook misalnya, adalah kebun ceri yang serba mengerti itu.
Maka inilah saatnya kembali kepada jalan para pendahulu ummat ini dalam memahami Diin. Dengan belajar yang tiada henti. Dengan membuka diri seluas-luasnya pada semua sumber ilmu meski berbeda madzhab, berbeda harakah, dan berbeda jama’ah dakwah. Dalam kelompok, kita ini seperti berada di ujung-ujung jari, semakin tekun mengaji pemahaman dengan kejujuran ilmiah, kita akan makin bergerak ke arah telapak tangan dan mengerti betapa sempurna dan menyeluruhnya Islam dengan Al Quran dan Sunnah menjadi panduan yang difahami secara luas dan dalam.
Maka perbedaan itu justru akan menjadi kekuatan jika kita mau saling belajar dan mengakui keutamaan yang lain; sebab mana ada yang menandingi amal agung ribuan kyai dengan jutaan santri di pondok pesantrennya, ribuan aktivis berkemajuan dengan aset-aset ‘amal usaha yang melayani ummat, kader-kader tarbiyah yang menggeluti bidang layanan kemanusiaan, pendidikan, dan politik, kader-kader khilafah yang menyadarkan ummat akan kebobrokan sistem jahiliah, kader-kader tabligh yang setia mengetuk pintu-pintu mengajak ummat meramaikan masjid, dan para asatidz dengan langkah strategis bersama jama’ah setianya yang terus bergerak membina bidang-bidang strategis?
Allahu Akbar. Inilah potensi kebangkitan ummat yang tiada tara.
Maka kita harus menjaganya agar tetap menjadi potensi kebangkitan, bukan celah syaithan menuju kehancuran. Sebab sungguh peringatan ayat-ayat dalam Surat Ar Ruum ini berat, yakni agar kita tak mengikuti jalan kemusyrikan.*

Salim A Fillah
Sumber : http://www.hidayatullah.com/kolom/salam-dari-salim/read/2016/05/26/95390/pelik-ceri-dan-kebun-yang-serba-mengerti.html

13.32 | Posted in | Read More »

Lestarikanlah Kesantunan yang Terancam Langka! (Autokritik Untuk Kader PKS)


PelitaDakwah Masih terkenang hingga sekarang, sebuah cerita heroik yang saya dengar pada masa kampanye pemilu 1999 silam. Ketika Partai Keadilan baru berdiri. Dan para aktivis dakwah yang bertahun-tahun bergulat di dunia pemikiran di kampus harus mulai belajar berkecimpung di dunia politik.
Dua orang itu dipertemukan oleh Allah swt di sebuah angkot. Seorang pemudi mengenakan jilbab rapi dan syar’i, duduk di seberang seorang pemuda yang tampil dengan aksesoris yang mencirikan simpatisan sebuah partai sekuler yang sedang populer. Pemuda itu memandang dengan tatapan tak bersahabat ke arah pemudi yang di depannya. Tiba-tiba saja ia berkata, “Kalau kami menang, kalian lah yang pertama kali kami habisi.”
Kalimat itu mengagetkan si pemudi. Namun dengan tenang ia membalas, “Kalau kami menang, kalian lah yang pertama kali kami santuni.” Ya, pemuda itu mengenali bahwa si pemudi adalah kader Partai Keadilan.
Kebenaran cerita di atas tidak bisa dipastikan, karena beredar dari mulut ke mulut hingga sampai di kota saya tinggal saat itu, di Bandar Lampung. Kisah tersebut kabarnya terjadi di Jakarta. Pada suatu kesempatan saya tanyakan kepada kenalan saya yang tinggal di Jakarta. Ia mengaku pernah mendengar juga cerita di atas.
Meski tak dapat dikonfirmasi, namun kisah itu telah menjadi motivasi bagi kader-kader Partai Keadilan untuk berlaku santun kepada siapa saja.
Di awal berdirinya Partai Keadilan, kesantunan kader-kadernya telah diakui oleh banyak pihak. Salah satunya adalah Dahlan Iskan. Dimuat di harian Suara Indonesia 21 September 1998, beliau yang kala itu menjadi pimpinan Jawa Pos menulis testimoni dengan judul “Masa Santun di Dunia yang Bergetah”. Terkagum-kagum Dahlan Iskan melihat ribuan orang yang hadir dalam deklarasi Partai Keadilan di Gelora Pancasila Surabaya dengan penuh ketertiban. Bahkan bagaimana kader PK memperlakukan anak-anaknya menjadi detail yang berkesan baginya.
Kesantunan itu makin tersiar lagi kala stasiun-stasiun televisi menayangkan langsung debat calon presiden yang diikuti oleh Amin Rais, Yusril Ihza Mahendra, Sri Bintang Pamungkas, dan Didin Hafidhuddin. Sebuah insiden terjadi. Amin Rais menyindir Yusril yang bekerja untuk mantan presiden Suharto sebagai penulis naskah pidato. Kecekcokan di atas panggung dilihat oleh para pemirsa. Hingga kemudian KH Didin Hafidhuddin sebagai calon presiden dari Partai Keadilan mengeluarkan kalimat-kalimat menyejukkan suasana. Momen itu diapresiasi oleh penonton.
Tahun 99, saya yang masih berseragam SMA sudah ikut berkeliling ke rumah-rumah penduduk mengenalkan partai baru berlambang bulan sabit kembar itu. Tentu saja ditemani kader yang lebih senior. Setelah debat capres, mudah sekali untuk “meng-closing” orang dengan mengungkit kejadian di atas. “Oooh yang capresnya kiai itu? Wah bagus itu, dia menengahi cekcok Amin Rais dengan Yusril,” respon tuan rumah. Lantas pengenalan Partai Keadilan jadi lebih mulus dipaparkan.
Kesantunan kader Partai Keadilan juga masih diakui hingga tahun-tahun berikutnya. Ketika Hidayat Nur Wahid menggantikan Nur Mahmudi Ismail sebagai presiden partai, masyarakat melihat perwakilan sosok santun Partai Keadilan di kancah nasional. Gaya bicara doktor lulusan Universitas Islam Madinah ini tidak ceplas ceplos, tidak ngotot dengan urat wajah menonjol, tidak meninggikan nada, namun khas kelembutan orang Jawa dengan substansi pembicaraan yang berbobot.
Ya, itulah wajah Partai Keadilan, sebelum berubah menjadi Partai Keadilan Sejahtera.
Kesantunan Kader PKS Kini
Namun sekarang saya mendapat kesan yang berbeda. Jauh berbeda dengan yang dahulu, ketika media sosial belum ada. Boleh tidak sependapat, kini yang saya temui kader-kader PKS menjadi sosok yang militan di media sosial dengan bahasa provokatif.
Yang saya dapati, kader PKS punya “sumbu pendek”. Sedikit provokasi bisa hasilkan ledakan emosi. Mudah memvonis dengan berlebihan. Di kemudian hari, ketika seseorang yang terlanjur divonis itu menjadi partner politik PKS, para kader pun jadi salah tingkah.
Sekali lagi boleh tidak sependapat, dan saya tidak menggeneralisasi bahwa semua kader PKS telah kehilangan kesantunan. Tulisan ini hanyalah sarana autokritik, ajang muhasabah, supaya kesantunan yang dulu tetap terjaga. Agar kader PKS seperti saya masih bisa berkata kepada para pembully, “Kalianlah orang pertama yang akan kami santuni.” Maafkan juga bila saya tidak mengemukakan contoh kasus, atau menyebut nama orang sebagai sampel buruk.
Sebenarnya bukan hanya kader PKS saja yang kehilangan kesantunan. Terutama sejak booming media sosial, bangsa ini memang sudah kehilangan keramahan dengan sesamanya. Bangsa ini gampang gaduh, gampang menghujat, gampang berdebat kusir, gampang menyindir dengan meme-meme kreatif usil.
Sejak awal reformasi pun, ketika kran kebebasan berbicara dibuka, semua orang merasa bebas melampiaskan kemarahan di muka publik. Tetapi dulu ada kader PK yang jadi pembeda. Sayangnya kini tak lagi ditemukan pembeda.

Lestarikan Selalu Kesantunan Itu
Presiden PKS Sohibul Iman di berbagai kesempatan sudah berulang kali mengemukakan keresahannya tentang cara bangsa ini menggunakan media sosial. Harusnya kegelisahan itu ditangkap dengan baik oleh kader PKS, lantas menjadi terdepan dalam upaya menghapus kegamangan presiden partainya.
Kesantunan tak cukup dengan memamerkan foto relawan partai yang mengabdi di daerah bencana. Tetapi kesantunan itu terlihat dari bagaimana kita merespon kekecewaan orang, menjawab tudingan orang, atau mempublikasi status di media sosial.
Maka lapangkanlah hati, jangan mudah terprovokasi. Bila ada hal yang perlu didebat, lakukan dengan “billati hiya ahsan”. Bukankah ayat berikut ini yang kita tadabburi dalam halaqoh saat mendapat materi tentang dakwah?
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” QS An-Nahl: 125.
Kalau dirasa orang yang sedang berbicara itu memang berniat menghujat tanpa mau mendengar penjelasan, maka berpalinglah! Jangan terseret ke dalam pembelaan yang tak berguna dan malah menambah hujatan lebih hebat.
“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (al-A’raaf: 199)
“Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil.” (Al-Qashash: 55)
Jangan pula memulai provokasi. Karena setiap provokasi itu akan mendatangkan balasan yang mungkin lebih parah. Kata pepatah, bila rumah kita terbuat dari kaca, jangan timpuk rumah orang dengan batu.
“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.” (QS Al-An’am: 108)
Ayat di atas berbicara spesifik tentang provokasi terhadap sembahan orang kafir. Namun ibrahnya berlaku umum, bahwa setiap hasutan akan mendatangkan respon yang bisa lebih buruk.

Introspeksi dan Berikan Uzur Untuk Mereka

Bisa dipahami, bahwa pertempuran haq dan bathil membuat kader PKS yang tinggi ghiroh islamiyahnya membenci setiap kemungkaran beserta icon-iconnya. Ketika ada yang membela hal yang dianggap mungkar, lantas tersulutlah kemarahan.
Tak bisa kah kita selami dulu apa penyebab mereka membela kemungkaran? Mengapa mereka membela pemimpin yang lalim yang kasar dan sewenang-wenang? Atau membela pemimpin yang berkali-kali berdusta namun didewakan sedemikian rupa.
Kita bisa tuding mereka terbuai pencitraan. Namun tetap saja kenyataannya tampilan PKS tak mempesona mereka. Atau kita mau buru-buru menyalahkan media massa yang rajin menyudutkan PKS?
Ingatlah, PKS pernah mempesona khalayak di masa kesantunan kadernya terjaga, atau ketika kader yang menjadi pejabat publik memang menampilkan integritas dengan ketulusan. Masih ingat bagaimana Hidayat Nur Wahid menolak mobil dinas baru untuk pimpinan MPR? Momen seperti ini yang berkesan di mata khalayak. Sayangnya, beberapa lama kemudian tokoh-tokoh dari PKS disoroti soal sikapnya yang bermewah-mewahan.
Atau mungkin karena kalimat-kalimat kita di media sosial yang membuat mereka ilfil. Ada yang mengemukakan kekecewaan, lantas ditanggapi dengan kata-kata yang membuat pendengarnya tak berkenan. Maka larilah mereka semakin jauh.
Bisa jadi karena kita lah mereka sekarang memusuhi. Introspeksi dan berikanlah uzur atas ungkapan kekecewaan yang mereka rasakan. Belum terlambat untuk menampilkan kesantunan.
Ada batas waktunya mereka terpesona pada hal-hal yang kita anggap semu itu. Kelak mereka juga akan bosan. Masyarakat pernah terpesona dengan PKS, lalu SBY, lalu Jokowi. Mengapa tidak berpikir bahwa mereka bisa kembali menerima PKS? Bisa, bila sikap kader di media sosial membuat mereka nyaman.
Satu hal lagi, kesadaran berislam masyarakat Indonesia sekarang semakin tumbuh. Memang kesadaran itu belum ter-shibghoh sampai fikrah. Tetapi pelan-pelan akan menuju kesana. Kelak, ketika makin banyak orang sadar bahwa Islam harus diperjuangkan dalam berbagai dimensi termasuk di dunia politik, bisakah PKS otomatis menjadi sandaran harapan mereka? Tidak! Kalau kader PKS belum apa-apa membuat mereka ilfil.
Maka bersikaplah santun! Tampilkan politik yang bersih! Agar PKS menjadi perahu yang menjulang diangkat gelombang shawah Islamiyah.
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran: 159)
Zico Alviandri
Sumber : http://islamedia.id/lestarikanlah-kesantunan-yang-terancam-langka-autokritik-untuk-kader-pks/

10.01 | Posted in | Read More »

Setiap Orang Punya Ladang Kesuksesannya Sendiri


PelitaDakwah Seorang pria yg tidak lulus ujian masuk universitas, di nikahkan orang tuanya.

Untuk mendapat penghasilan, ia pun melamar menjadi guru sekolah dasar dan mulai mengajar. Karena tidak punya pengetahuan mengajar, belum sampai  satu minggu mengajar ia sudah dikeluarkan.

Setibanya di rumah, sang istri menghapuskan air mata nya, menghiburnya dengan berkata: "Banyak ilmu dalam otak, ada orang yang bisa menuangkannya, ada pula yang tidak bisa. Tidak perlu bersedih karena hal ini. Mungkin ada pekerjaan lain yang lebih cocok untukmu sedang menantimu."

Kemudian ia melamar dan melakukan pekerjaan lain, namun dipecat juga karena geraknya lambat.

Saat itu sang istri berkata : kegesitan kaki - tangan setiap orang berbeda, orang lain sudah bekerja beberapa tahun lamanya, kamu hanya belajar di sekolah, bagaimana bisa cepat?

Ia pun bekerja lagi di banyak pekerjaan lain, namun tidak ada satu pun yg berhasil, semua gagal di tengah jalan.

Namun demikian, tiap kali pulang dengan patah semangat, sang istri selalu menghiburnya, tidak pernah mengeluh.

Ketika sudah berumur 30 tahun-an, ia mulai dapat berkat sedikit melalui bakat berbahasanya, menjadi pembimbing di sekolah luar biasa tuna rungu wicara.

Kemudian ia membuka sekolah siswa cacat, dan akhirnya bisa membuka banyak cabang toko yang menjual alat-alat bantu orang cacat di berbagai kota.

Akhirnya ia menjadi boss yang memiliki kekayaan berlimpah.

Suatu hari, ia yang sekarang sudah sukses besar, bertanya kepada sang istri, kenapa ketika masa depan nya masih suram, engkau tetap begitu percaya kepada ku ?

Jawaban sang istri ternyata sangat polos dan sederhana :
Sebidang tanah yg tidak cocok ditanami gandum, bisa dicoba untuk ditanami kacang. Jika kacang pun tidak bisa tumbuh dengan baik, coba tanami buah-buahan; jika buah-buahan pun tidak bisa tumbuh, semaikan bibit gandum hitam, pasti bisa berbunga, karena pada sebidang tanah, pasti ada bibit yang cocok untuknya, pasti bisa menghasilkan panen dari nya.

Mendengar penjelasan sang istri, ia mengeluarkan air mata terharu.... Keyakinan kuat, ketabahan serta kasih sayang sang istri, bagaikan sebutir bibit unggul.

Semua prestasi dirinya, adalah berkat keajaiban bibit unggul yang kokoh hingga bertumbuh kembang jadi kenyataan.

Di dunia ini tidak ada seorang pun yg hanya sekedar sampah, dia hanya tidak berada di posisi yang tepat.

Setelah membaca cerita ini, jangan dibiarkan saja, teruskan ke orang lain.
Anda akan ikut berbahagia apabila orang yg tadinya susah menjadi sukses.

Delapan kalimat di bawah ini, adalah intisari kehidupan :

1. Orang yang tidak tahu menghargai sesuatu, biarpun diberi gunung emas tidak akan bisa merasakan kebahagiaan.

2. Orang yang tidak bisa toleran, seberapa banyak pun teman nya, akhirnya akan sendirian.

3. Orang yang tidak tahu bersyukur, seberapa pintar pun, tidak akan sukses.

4. Orang yang tidak bertindak nyata, seberapa cerdas pun tidak akan tercapai cita-cita nya.

5. Orang yang tidak bisa bekerjasama dengan orang lain, seberapa giat pun kerja nya tidak akan mendapatkan hasil yang optimal.

6. Orang yang tidak bisa menabung, dapat rejeki terus pun tidak akan bisa menjadi kaya.

7. Orang yang tidak bisa merasa puas, seberapa kaya pun tidak akan bahagia.

8. Orang yang tidak bisa menjaga kesehatan, berobat terus pun tidak akan berusia panjang.

~Sumber Grup WA"

05.45 | Posted in | Read More »

Syarat Memesan Tiket Ke Syurga


Jika ingin menonton suatu pertandingan di stadion kita mesti memiliki tiket bukan? Jika ingin memiliki sesuatu kita juga mesti memiliki uang bukan? Jika ingin menikahi seorang gadis bukankah kita mesti memiliki mahar? Kita mesti miliki sebelum kita bisa memiliki apa yang kita inginkan.

Lalu bagaimana caranya ke surga? Tentulah untuk bisa kesana kita mesti mempersiapkan tiket masuknya. Kepada siapa kita bisa memesan tiket menuju surga?

Andai tiket ke surga bisa dibayar dengan uang, betapa nikmatnya menjadi orang kaya? Andai tiket ke surga bisa dimiliki karena jabatan, betapa nikmatnya menjadi orang berkedudukan? Andai tiket ke surga bisa dimiliki karena tingginya prestise pendidikan, betapa nikmatnya menjadi seorang profesor dan doktor-doktor dari Universitas kenamaan.

Ternyata tiket ke surga bisa dipesan oleh siapa saja. Kaya, miskin, tua, muda, pejabat, rakyat jelata. Semuanya berpotensi untuk mendapatkannya. Hanya satu syaratnya, Islam dan pastinya kesungguhan mengamalkan ajarannya. Hanya satu rukunnya, Islam dan Tentunya kekuatan untuk meninggalkan segala larangan-laranganNya.

“…… pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu…..” (QS. Al Maidah: 3)

Maka berbangga hatilah dengan kesilamanmu. Tiket termahal yang semoga hingga tutup usia selalu kita miliki. Harta termahal yang memudahkan kita mendafatkan fasilitas super mewah di Surga-Nya. (dakwatuna.com/hdn)

Sardini Ramadhan
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2016/03/14/79598/syarat-memesan-tiket-surga/#ixzz4LXTS0tz2 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

16.06 | Posted in , , | Read More »

Selagi Harapan Masih Mungkin Diwujudkan


Sardini Ramadhan

Hidup adalah tentang memilih. Menjadi mulia atau hina. Menjadi pemenang atau pecundang. Semuanya harus dipilih salah satunya. Namun hidup tidaklah sama dengan bermain taruhan yang pemenangnya bukan hanya ditentukan oleh suatu keunggulan tapi lebih karena keberuntungan. Pilihan untuk menjadi pemenang selalu berseiringan dengan ikhtiar yang maksimal dengan amat banyak mengorbankan kesenangan-kesenangan hidup yang melenakan. Sebaliknya menjadi pecundang selalu bersaudara kembar dengan kemalasan. Asyik menikmati kesenangan-kesenangan semu yang memerdayakan. Bermental lemah untuk berjuang mengatasi setiap badai-badai kehidupan yang menerjang.

19.56 | Posted in , | Read More »

Mencari Spirit Hafidz yang Hilang





"Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, "Siapakah mereka ya Rasulullah?" Rasul menjawab, "Para ahli Al Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya." (HR. Ahmad)

         Kemana semangat menghafal yang dulu sempat membara? Kemana cita-cita menerangi hati dengan ayat-ayat Al Qur’an? Kemana cita-cita mulia (menjadi hafidz)  sebelum mengakhiri masa hidup di dunia? Semoga semuanya tidak kemana-mana atau hilang seperti tetesan embun dipagi hari?

            Imam Syafi’i hafal Qur’an dalam usia 9 tahun.  Hasan Al Bana hafal Al Qur’an dalam usia 12 tahun.  Yusuf Al Qardawi hafal Qur’an dalam usia 10 tahun.  Raja Faisal dari Arab Saudi, satu-satunya pemimpin Saudi  yang berani mengembargo minyak Amerika Serikat dan Nato hafal Al Qur’an di usia 16  tahun.  Ismail Haniyeh, Perdana Mentri Palestina juga seorang Hafidz Al Qur’an. Bahkan Anaknya yang bernama Aid berhasil menggenapkan hafalan Al Qur’annya dalam waktu 35 hari. Presiden Mesir Muhammad Mursi, istri dan kelima anaknya juga hafidz dan Hafidzah Al Qur’an. Mereka sebagian dari contoh orang-orang besar yang telah menyempurnakan hidupnya dengan menghafal Al Qur’an. Mereka orang besar yang tahu betul bagaimana menjaga mukjizat terbesar Rasulullah SAW.

Menjadi hafidz adalah cita-cita yang tak mesti dipadamkan. Disuatu pelatihan menghapal Al Quran  tahun lalu, pemateri mengatakan, “jika kita tak mampu untuk menghafal Al Qur’an berazzamlah untuk memiliki pasangan hidup Hafidz/Hafidzah Al Qur’an.” Karena seorang yang hafal Al Qur’an bisa memberikan syafaat kepada sepuluh anggota keluarganya. Sebagaimana diriwayatkan Tirmidzi, Ibnu Majah dari Ali bahwa Nabi saw bersabda,

”Barangsiapa yang membaca Al Qur’an, menghafalkannya, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram maka Allah akan memasukkannya ke surga dan dia bisa memberikan syafaat kepada sepuluh anggota keluarganya yang kesemuanya seharusnya masuk neraka.”

Sebuah saran yang menarik. Namun alangkah lebih baik jika kita menginginkan surga tidak hanya tergantung pada syafaat dari pasangan atau anak-anak kita (Untu yang telah menikah). Alangkah lebih baik sedari dini, sebelum masa bertualang di dunia ini berakhir kitapun memiliki kemauan yang kuat untuk mengkhatamkan Al Qur’an. Bukankah kita menginginkan kedudukan yang tinggi di surgaNya sesuai dengan ikhtiar maksimal kita dalam menghafal setiap ayat-ayat Al Qur’an selama hidup di dunia ini.

Dari Abdillah bin Amr bin ’Ash dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Akan dikatakan kepada shahib Al Qur’an, "Bacalah dan naiklah serta tartilkan sebagaimana engkau dulu mentartilkan Al Qur’an di dunia, sesungguhnya kedudukanmu di akhir ayat yang kau baca." (HR. Abu Daud dan Turmudzi)

"Ya Allah, jadikan kami, anak-anak kami, saudara kami, dan keluarga kami sebagai penghafal Al Qur’an. Jadikan sisa usia kami menjadi sarana untuk kami  mengambil manfaat dari Al Qur’an saat membacanya, mengurai maknanya, menyimak nadanya dan menghapal setiap ayat-ayatnya.

Sardini Ramadhan

08.44 | Posted in , | Read More »

Renungan Ramadhan... | KH. Rahmat Abdullah

PKS Nongsa - "Musuh-musuh ummat mestinya belajar untuk mengerti bahwa bayi yang dilahirkan ditengah badai tak akan gentar menghadapi deru angin. Yang biasa menggenggam api jangan diancam dengan percikan air. Mereka ummat yang biasa menantang dinginnya air di akhir malam, lapar dan haus di terik siang."

Tak pernah air melawan qudrat yang ALLAH ciptakan untuknya, mencari dataran rendah dan semakin kuat ketika dibendung dan menjadi nyawa kehidupan. Lidah api selalu menjulang dan udara selalu mencari daerah minimum dari kawasan maksimum, angin pun berhembus.

Edaran yang pasti dari keluarga galaksi, membuat manusia dapat membuat mesin pengukur waktu, kronometer, menulis sejarah, catatan musim dan penanggalan. Semua bergerak dalam harmoni yang menakjubkan. Ruh pun –dengan karakternya sebagai ciptaan ALLAH– menerobos kesulitan mengaktualisasikan dirinya yang klasik saat tarikan grativasi “bumi jasad” memberatkan penjelajahannya menembus hambatan dan badai cakrawala.

Kini dibulan ini (Ramadhan), ia begitu ringan, menjelajah langit ruhani. Carilah bulan diluar Ramadlan saat orang dapat mengkhatamkan tilawah satu, dua, tiga sampai empat kali dalam sebulan. Carilah momentum saat orang berdiri lama dimalam hari, saat orang menyelesaikan sebelas atau dua puluh tiga rakaat. Carilah musim kebajikan saat orang begitu santainya melepaskan “ular harta” yang membelitnya.

Inilah momen yang membuka seluas-luasnya kesempatan ruh mengeksiskan dirinya dan mendekap erat-erat fitrah dan karakternya.

Marhaban ya syahra ramadlan Marhaban ya syahra’ as-shiyami
Marhaban ya syahra ramadlan Marhaban ya syahra’ al-qiyami.

Keqariban ditengah keghariban (pendekatan diri ditengah keterasingan)

Ahli zaman kini mungkin leluasa menertawakan muslim badui yang bersahaja, saat ia bertanya : “Ya Rasul ALLAH, dekatkah tuhan kita? Sehingga saya cukup berbisik saja atau jauhkah Ia sehingga saya harus berseru kepada-NYA?”

Sebagian kita telah begitu ‘canggih’ memperkatakan Tuhan. Yang lain merasa bebas ketika beban-beban orang bertuhan telah mereka persetankan.

Bagaimana rupa hati yang Ia tiada bertahta disana? Betapa miskinnya anak-anak zaman, saat mereka saling benci dan bantai. Betapa sengsaranya mereka saat menikmati kebebasan semu; makan, minum, seks, riba, suap, syahwat dan seterusnya, padahal mereka masih berpijak dibumi-NYA.

Betapa menyedihkan orang yang grogi menghadapi kehidupan dan persoalan, padahal Ia yang memberinya titah untuk menuturkan pesan suci-NYA. Betapa bodohnya masinis yang telah mendapatkan peta perjalanan, kisah kawasan rawan, mesin kereta yang luar biasa tangguh dan rambu-rambu yang sempurna, lalu masih membawa keluar lokonya dari rel, untuk kemudian menangis-nangis lagi di stasiun berikutnya, meratapi kekeliruannya. Begitulah berulang seterusnya.

Semua ayat dari 183 – 187 surah Al Baqarah bicara secara tekstual tentang puasa. Hanya satu ayat yang tidak menyentuhnya secara tekstual, namun sulit mengeluarkannya dari inti hikmah puasa. “Dan apabila hamba-hambaku bertanya tentang Aku, maka katakanlah : sesungguhnya Aku ini dekat…( Al Baqarah : 185).

Apa yang terjadi pada manusia dengan dada hampa kekariban (kedekatan) ini? Mereka jadi pandai tampil dengan wajah tanpa dosa didepan publik, padahal beberapa menit sebelum atau sesudah tampilan ini mereka menjadi drakula dan vampir yang haus darah, bukan lagi menjadi nyamuk yang zuhud. Mereka menjadi lalat yang terjun langsung kebangkai-bangkai, menjadi babi rakus yang tak bermalu, atau kera, tukangtiru yang rakus.

Bagaimana mereka menyelesaikan masalah antar mereka? Bakar rumah, tebang pohon bermil-mil, hancurkan hutan demi kepentingan pribadi dan keluarga, tawuran antar warga atau anggota lembaga tinggi Negara, bisniskan hukum, atau jual bangsa kepada bangsa asing dan rentenir dunia. Berjuta pil pembunuh mengisi kekosongan hati ini. Berapa lagi bayi lahir tanpa berstatus bapak yang syar’i? Berapa lagi rakyat yang menjadi keledai tunggangan para politisi bandit? Berapa banyak lagi ayat-ayat dan pesan dibacakan sementara hati tetap membatu? Berapa banyak lagi kurban berjatuhan sementara sesama saudara saling tidak peduli?

Al Qur’an dulu baru yang lain

 
Bacalah Al-Qur’an, ruh yang menghidupkan, sinari pemahaman dengan sunnah dan perkaya wawasan dengan sirah, niscahya Islam itu terasa nikmat, harmoni, mudah, lapang dan serasi. Al-Qur’an membentuk frame berfikir. Al-Qur’an mainstream perjuangan. Nilai-nilainya menjadi tolak ukur keadilan, kewajaran, dan kesesuaian dengan karakter, fitrah dan watak manusia. Penguasaan outline-nya menghindarkan pandangan parsial juz’i. penda’wahannya dengan kelengkapan sunnah yang sederhana, menyentuh, aksiomatis, akan memudahkan orang memahami Islam, menjauhkan perselisihan dan menghemat energi umat.

Betapa da’wah Al-Qur’an dengan madrasah tahsin, tahfiz dan tafhimnya telah membangkitkan kembali semangat keislaman, bahkan dijantung tempat kelahirannya sendiri. Ahlinya selalu menjadi pelopor jihad digaris depan, jauh sejak awal sejarah ini bermula. Bila Rasullah meminta orang menurunkan jenazah dimintanya yang paling banyak penguasaan Qur’annya. Bila menyusun komposisi pasukan, diletakannya pasukan yang lebih banyak hafalannya. Bahkan dimasa awal sekali ‘unjuk rasa’ pertama digelar dengan pertanyaan “Siapa yang berani membacakan surat Arrahman di ka’bah?” Dan Ibnu Mas’ud tampil dengan berani dan tak menyesal atau jera walaupun pingsan dipukul musyrikin kota Makkah.

Nuzul Qur’an di Hira, Nuzul Qur’an di hati

Ketika pertama kali Al-Qur’an diturunkan, ia telah menjadi petunjuk untuk seluruh manusia. Ia menjadi petunjuk sesungguhnya bagi mereka yang menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Ia benar-benar berguna bagi kaum beriman dan menjadi kerugian bagi kaum yang zalim. Kelak saatnya orang menyalakan rambu-rambu, padahal tanpa rambu-rambu kehidupan jadi kacau. Ada juga orang berfikir malam qodar itu selesai sudah karena ALLAH menyatakan dengan anzalnahu ( kami telah menurunkannya) tanpa melihat tajam-tajam pada kata tanazzalu’l Malaikatu wa’l Ruhu (pada malam itu turun menurunlah para malaikat dan ruh), dengan kata kerja permanen.

Bila malam adalah malam, saat matahari terbenam, siapa warga negeri yang tak menemukan malam; kafirnya dan mukminnya, fasiqnya dan shalihnya, munafiqnya dan shiddiqnya. Yahudi dan nasraninya? Jadi apakah malam itu malam fisika yang meliput semua orang dikawasan?

Jadi ketika Ramadhan di gua Hira itu malamnya disebut malam qadar, saat turun sebuah pedoman hidup yang terbaca dan terjaga, maka betapa bahaginya setiap mukmin yang sadar dengan Nuzulnya Al-Qur’an dihati pada malam qadarnya masing-masing, saat jiwa menemukan jati dirinya yang selalu merindu dan mencari sang Pencipta. Yang tetap terbelenggu selama hayat dikandung badan, seperti badanpun tak dapat melampiaskan kesenangannya, karena selalu ada keterbatasan dalam setiap kesenangan. Batas makanan dan minuman yang lezat adalah keterbatasan perut dan segala yang lahir dari proses tersebut. Batas kesenangan libido ialah menghilangnya kegembiraan dipuncak kesenangan. Batas nikmatnya dunia ketika ajal tiba-tiba menemukan rambu-rambu: Stop!

Puasa: Da’wah, Tarbiyah, Jihad dan Disiplin

 
Orang yang tertempa makan (sahur) disaat enaknya orang tertidur lelap atau berdiri lama malam hari dalam shalat qiyam Ramadlan, setelah siangnya berlapar haus atau menahan semua pembantal lahir bathin, sudah sepantasnya mampu mengatasi masalah-masalah da’wah dan kehidupannya tanpa keluhan, keputusasaan atau kepanikan.

Musuh-musuh ummat mestinya belajar untuk mengerti bahwa bayi yang dilahirkan ditengah badai tak akan gentar menghadapi deru angin. Yang biasa menggenggam api jangan diancam dengan percikan air. Mereka ummat yang biasa menantang dinginnya air diakhir malam, lapar dan haus diterik siang.

Mereka biasa berburu dan menunggu target perjuangan, jauh sampai keakhirat negeri keabadian, dengan kekuatan yakin yang melebihi kepastian fajar menyingsing. Namun bagaimana mungkin bisa mengajar orang lain, orang yang tak mampu memahami ajarannya sendiri? “Fadiqu’s Syai’la Yu’thihi’ (yang tak punya apa-apa tak kan mampu memberi apa-apa).

Wahyu pertama turun dibulan Ramadlan, pertempuran dan mubadarah (inisiatif) awal di Badar juga di bulan Ramadlan dan Futuh (kemenangan) juga di bulan Ramadlan. Ini menjadi inspirasi betapa madrasah Ramadlan telah memproduk begitu banyak alumni unggulan yang izzah-nya membentang dari masyriq ke maghrib zaman.

Bila mulutmu bergetar dengan ayat-ayat suci dan hadits-hadits, mulut mereka juga menggetarkan kalimat yang sama. Adapun hati dan bukti, itu soal besar yang menunggu jawaban serius.
[ismed]






KH. Rahmat Abdullah
Pks Nongsa



22.13 | Posted in | Read More »

CATATAN CINTA

ISLAM MANCANEGARA

BELAJAR FIQIH

SASTRA ISLAMI

Recently Added

KELUARGA

INSPIRASI TOKOH

DUNIA QUR'AN