Cinta Dakwah, Cintai Keluarga
Suatu malam sehabis
mengambil air wudhu untuk Qiyamullail. Aku sempatkan menonton televisi melihat
skor pertandingan perempat final yang mempertemukan Portugal dan Republik
Chezka. Ternyata pertandingannya telah usai dan dimenangkan Portugal. Layar
televisi menampilkan iklan-iklan komersil hingga pandangan mataku tertuju pada
sebuah iklan sinetron berjudul “Air Mata Ibu”. Ada yang menarik dari iklan ini
sehingga membuatku bertahan sejenak untuk menontonnya. Seorang ibu yang
berprofesi sebagai Ustadzah sedang menyampaikan ceramah pada ibu-ibu pengajian.
Dalam ceramahnya ustadzah ini menekankan kepada jemaahnya tentang bahaya
minum-minuman keras. “ Sesungguhnya minuman keras itu haram hukumnya, katanya berapi-api”. Para peserta tampak
serius mendengarkan ceramah itu dan mengangguk-angguk tanda setuju.
Diadegan
lain anak sang Ustadzah sedang berpesta di sebuah bar. Alunan musik disco
menghentak seisi ruangan. Para pengunjungnya termasuk anak sang Ustadzah larut
dalam dzikir kemaksiatan itu. Minuman keras menjadi menu sakral dalam perjamuan syetan itu. Semua
pengunjung menenggak minuman keras termasuk anaknya sang Ustadzah. Singkat
cerita anak Ustadzah pulang mengendarai mobilnya dalam kondisi mabuk berat.
Dalam kondisi seperti itu dia tidak bisa menjaga keseimbangan kendaraannya dan
akhirnya terjadilah tabrakan yang mengantarkan anak ustadzah ke rumah sakit.
Saat terjadinya tabrakan itu, dalam waktu bersamaan Ustadzah tersentak kaget
dan tasbih yang dipegangnya terlepas. Seakan
ada ketukan dahsyat dihatinya yang mengingatkannya pada anaknya. Firasatnya
mengatakan ada sesuatu yang menakutkan terjadi pada putri semata wayangnya. Pada
akhirnya iklan itu menceritakan suasana haru sang ustadzah melihat kondisi
putrinya di rumah sakit. Semakin mendalam luka sang Ustadzah saat mengetahui
penyebab terjadinya tabrakan itu adalah minuman keras yang memabukkan sang
anak. Hal yang sangat ditekankannya untuk dihindari oleh para jemaah binaannya
beberapa saat sebelumnya. Bahkan dia mengajak para peserta pengajian untuk
mengingatkan anggota keluarganya agar menghindari minuman keras.
Sebuah
iklan yang menghentak kesadaran kita akan pentingnya berdakwah dengan bermodalkan
keteladanan. Mengingatkan kepada jiwa-jiwa kita tentang semangat mendakwahi keluarga secara maksimal sebelum kita mendakwahi
orang lain.
Mari kita simak kisah menggugah antara
seorang anak kecil bersama Ibnu Mubarak berikut!
Di
suatu malam, seorang anak tampak memperhatikan orang-orang mengumpulkan kayu
bakar. Sebagian kayu bakar itu ditumpuk dan dinyalakan dengan api. Pandangan
sang anak menyorot tajam pada pemandangan kayu bakar yang sedikit demi
sedikit terbakar oleh jilatan api. Tak lama kemudian diapun menangis setelah
melihat bagaimana kayu-kayu bakar yang lain ditaruh satu persatu diantara
kobaran api yang semakin lama semakin membesar. Mengapa engkau menangis nak?”
tanya Ibnu Mubarak. Sang anak menjawab, “Aku teringat suasana api neraka, saat
orang-orang berdosa menjadi bahan bakarnya”.
Kisah diatas semestinya bisa mengusap lembut
hati kita tentang ketakutan akan
hebatnya siksaan neraka. Bahan bakar neraka itu adalah manusia durhaka dan
batu. Kita tidak ingin keluarga kita menjadi bahan bakar api neraka lantaran
aktivitas dosa yang dilakukannya.
Hai
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu;
penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah
terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa
yang diperintahkan.
(Q.S. At
Tahrim : 6)
Keluarga adalah orang
terdekat dalam kehidupan kita. Mari sentuh mereka dengan nilai-nilai kebaikan.
Jangan pernah lupakan mereka dalam doa-doa khusyukmu. Semoga Allah
mengkaruniakan kepada mereka cahaya keimanan. Semoga kebersamaan kita bukan
hanya di dunia ini saja, tapi juga di JannahNya kelak. Semoga kita bisa
memelihara diri kita dan keluarga kita dari panasnya siksa neraka.
Sardini Ramadhan
